Sabtu, 01 Juni 2019

Rangkuman Hadits Arba'in ke 2 oleh Ust. Faisol Tantowi

Tidak ada komentar:
Rangkuman Ceramah Tarawih
2 Ramadan 1440 H
Oleh : Ust. Faisol Tantowi

عَنْ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَيْضًا قَالَ : بَيْنَمَا نَحْنُ جُلُوْسٌ عِنْدَ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم ذَاتَ يَوْمٍ إِذْ طَلَعَ عَلَيْنَا رَجُلٌ شَدِيْدُ بَيَاضِ الثِّيَابِ شَدِيْدُ سَوَادِ الشَّعْرِ, لاَ يُرَى عَلَيْهِ أَثَرُ السَّفَرِ وَلاَ يَعْرِفُهُ مِنَّا أَحَدٌ, حَتَّى جَلَسَ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم, فأَسْنَدَ رُكْبَتَيْهِ إِلَى رُكْبَتَيْهِ, وَوَضَعَ كَفَّيْهِ عَلَى فَخِذَيْهِ, وَ قَالَ : يَا مُحَمَّدُ أَخْبِرْنِيْ عَنِ الإِسْلاَمِ, فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم : اَلإِسْلاَمُ أَنْ تَشْهَدَ أَنْ لاَإِ لَهَ إِلاَّ اللهُ وَ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ, وَتُقِيْمُ الصَّلاَةَ, وَتُؤْتِيَ الزَّكَاةَ, وَتَصُوْمَ رَمَضَانَ, وَتَحُجَّ الْبَيْتَ إِنِ اسْتَطَعْتَ إِلَيْهِ سَبِيْلاً. قَالَ : صَدَقْتُ. فَعَجِبْنَا لَهُ يَسْئَلُهُ وَيُصَدِّقُهُ. قَالَ : فَأَخْبِرْنِيْ عَنِ الإِيْمَانِ, قَالَ : أَنْ بِاللهِ, وَمَلاَئِكَتِهِ, وَكُتُبِهِ, وَرُسُلِهِ, وَالْيَوْمِ الآخِرِ, وَ تُؤْمِنَ بِالْقَدْرِ خَيْرِهِ وَ شَرِّهِ. قَالَ : صَدَقْتَ. قَالَ : فَأَخْبِرْنِيْ عَنِ الإِحْسَانِ, قَالَ : أَنْ تَعْبُدَ اللهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ. قَالَ : فَأَخْبِرْنِيْ عَنِ السَّاعَةِ قَالَ : مَا الْمَسْؤُوْلُ عَنْهَا بِأَعْلَمَ مِنَ السَّائِلِ. قَالَ : فَأَخْبِرْنِيْ عَنْ أَمَارَاتِهَا, قَالَ : أَنْ تَلِدَ الأَمَةُ رَبَّتَهَا, وَأَنْ تَرَى الْحُفَاةَ الْعُرَاةَ الْعَالَةَ رِعَاءَ الشَّاءِ يَتَطَاوَلُوْنَ فِيْ الْبُنْيَانِ, ثم اَنْطَلَقَ, فَلَبِثْتُ مَلِيًّا, ثُمَّ قَالَ : يَا عُمَرُ, أَتَدْرِيْ مَنِ السَّائِل؟ قُلْتُ : اللهُ وَ رَسُوْلُهُ أَعْلَمُ. قَالَ : فَإِنَّهُ جِبْرِيْلُ أَتَاكُمْ يُعَلِّمُكُمْ دِيْنَكُمْ. (رَوَاهُ مُسْلِمٌ)

Umar bin Khaththab RA berkata :
Suatu ketika, kami (para sahabat) duduk di dekat Rasululah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tiba-tiba muncul kepada kami seorang lelaki mengenakan pakaian yang sangat putih dan rambutnya amat hitam. Tak terlihat padanya tanda-tanda bekas perjalanan, dan tak ada seorang pun di antara kami yang mengenalnya. Ia segera duduk di hadapan Nabi, lalu lututnya disandarkan kepada lutut Nabi dan meletakkan kedua tangannya di atas kedua paha Nabi, kemudian ia berkata :
“Hai, Muhammad! Beritahukan kepadaku tentang Islam.”
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,
”Islam adalah, engkau bersaksi tidak ada yang berhak diibadahi dengan benar melainkan hanya Allah, dan sesungguhnya Muhammad adalah Rasul Allah;
menegakkan shalat;
menunaikan zakat;
berpuasa di bulan Ramadhan,
dan engkau menunaikan haji ke Baitullah, jika engkau telah mampu melakukannya,” lelaki itu berkata,”Engkau benar,” maka kami heran, ia yang bertanya ia pula yang membenarkannya.
Kemudian ia bertanya lagi: “Beritahukan kepadaku tentang Iman”.
Nabi menjawab,”Iman adalah, engkau beriman kepada Allah;
malaikatNya;
kitab-kitabNya;
para RasulNya;
hari Akhir,
dan beriman kepada takdir Allah yang baik dan yang buruk,”
ia berkata, “Engkau benar.”
Dia bertanya lagi: “Beritahukan kepadaku tentang ihsan”.
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,”Hendaklah engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihatNya. Kalaupun engkau tidak melihatNya, sesungguhnya Dia melihatmu.”
Lelaki itu berkata lagi : “Beritahukan kepadaku kapan terjadi Kiamat?”
Nabi menjawab,”Yang ditanya tidaklah lebih tahu daripada yang bertanya.”
Dia pun bertanya lagi : “Beritahukan kepadaku tentang tanda-tandanya!”
Nabi menjawab,”Jika seorang budak wanita telah melahirkan tuannya;
jika engkau melihat orang yang bertelanjang kaki, tanpa memakai baju (miskin) serta pengembala kambing telah saling berlomba dalam mendirikan bangunan megah yang menjulang tinggi.”
Kemudian lelaki tersebut segera pergi. Aku pun terdiam, sehingga Nabi bertanya kepadaku : “Wahai, Umar! Tahukah engkau, siapa yang bertanya tadi?”
Aku menjawab,”Allah dan RasulNya lebih mengetahui,”
Beliau bersabda,”Dia adalah Jibril yang mengajarkan kalian tentang agama kalian.” [HR Muslim, no. 8]

Sedikit Penjabaran tentang hadits tersebut

1.  رَجُلٌ شَدِيْدُ بَيَاضِ الثِّيَابِ
Seorang lelaki mengenakan pakaian yang sangat putih
Maksudnya : pakaian putih merupakan pakaian yang paling utama. Ketika menuntut ilmu dengan mengenakan pakaian putih hukumnya sunnah.

2. شَدِيْدُ سَوَادِ الشَّعْرِ
Amat hitam rambutnya
Maksudnya : alangkah baiknya jika orang menuntut ilmu ketika dimasa mudanya. Dimana rambutnya masih hitam dan belum berubah menjadi putih (beruban yang menandakan tua), otaknya masih cemerlang, tenaganya masih kuat. Tetapi sebaik2 orang menuntut ilmu ialah orang yang menuntut ilmu dari buaian ibu hingga liang lahat.

3. أَنْ تَشْهَدَ أَنْ لاَإِ لَهَ إِلاَّ اللهُ وَ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ
Bersaksi bahwa tidak ada yang berhak diibadahi selain Allah, dan bersaksi bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Allah
Maksudnya : Semua orang yang mau masuk islam diwajibkan mengikrarkan kesaksian bahwa Allah adalah satu2nya yang berhak disembah dan Nabi Muhammad adalah utusan Allah dengan membaca 2 kalimat syahadat. Bagaimana untuk anak2 yang orangtuanya muslim? Apa mereka harus membaca syahadat lagi ketika baligh? Jumhur Ulama mengatakan bahwa anak yang orangtuanya muslim, maka anak tersebut otomatis juga seorang muslim. Itu sebabnya, meskipun anak kita belum baligh, kita dianjurkan untuk mengajarkan dan membiasakan anak kita utk sholat 5 waktu. Dan didalam sholat itulah, anak kita biasa mengucapkan syahadatain.

4. قَالَ : صَدَقْتُ. فَعَجِبْنَا لَهُ يَسْئَلُهُ وَيُصَدِّقُهُ
lelaki itu berkata,”Engkau benar,” maka kami heran, ia yang bertanya ia pula yang membenarkannya.
Maksudnya : Dalam menuntut Ilmu, jika ada seseorang yang mengetahui suatu ilmu dan bertanya pada seorang guru untuk menjelaskan ilmu tersebut dengan tujuan agar yang mendengarkan bisa mengetahui ilmu tersebut juga, maka hal ini diperbolehkan. Tetapi jika ada seseorang yang mengetahui suatu ilmu dan bertanya pada seorang guru dengan tujuan untuk mengetes keilmuan guru itu dan untuk mencelanya, maka ini tidak diperbolehkan.

5. أَنْ بِاللهِ, وَمَلاَئِكَتِهِ, وَكُتُبِهِ, وَرُسُلِهِ, وَالْيَوْمِ الآخِرِ, وَ تُؤْمِنَ بِالْقَدْرِ خَيْرِهِ وَ شَرِّهِ
_Iman adalah, engkau beriman kepada Allah; MalaikatNya; kitab-kitabNya; para RasulNya;
hari Akhir, dan beriman kepada takdir Allah yang baik dan yang buruk,”_
Maksudnya : Dalam rukun Iman memang Malaikat disebutkan lebih dahulu daripada Rasul. Hal ini bukan menandakan bahwa Malaikat lebih mulia daripada Rasul. Ini diurutkan sesuai urutan penciptaannya. Rasul dan malaikat adalah makhluk Allah yang mulia. Hanya saja Rasul memiliki tingkat kemuliaan lebih daripada malaikat. Hal ini dikarenakan perjuangan, kesabaran, ketekunan para Rasul dalam menyebarkan islam.

6. أَنْ تَلِدَ الأَمَةُ رَبَّتَهَا
Jika seorang budak wanita telah melahirkan tuannya
Maksudnya : tanda2 kiamat salahsatunya ialah banyaknya anak yang durhaka pada orangtuanya. Yang memperlakukan orangtuanya seperti budak.

7. قُلْتُ : اللهُ وَ رَسُوْلُهُ أَعْلَمُ
Aku(Umar) menjawab,”Allah dan RasulNya lebih mengetahui,”
Maksudnya : Para Sahabat mengajarkan pada kita untuk selalu tawadhu' dalam menuntut ilmu.

Kekurangannya mohon dimaafkan 🙏

Rangkuman Hadits Arba'in ke 23 oleh Ust. Rezha Ariffianta

Tidak ada komentar:
MASJID AGUNG IBNU BATUTAH
Rangkuman Ceramah Tarawih
23 Ramadan 1440 H
Oleh : Ust. M. Rezha Ariffianta
Tema : Setiap Kebaikan adalah Shodaqoh (Hadits Arba'in No. 23)

عن أَبِي مَالِكٍ الحَارِثِ بْنِ عَاصِمٍ الأَشْعَرِيِّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:) الطُّهُورُ شَطْرُ الإِيْمَانِ، وَالحَمْدُ للهِ تَمْلأُ المِيْزَانَ، وَسُبْحَانَ اللهِ والحَمْدُ للهِ تَمْلآنِ – أَو تَمْلأُ – مَا بَيْنَ السَّمَاءِ وَالأَرْضِ، وَالصَّلاةُ نُورٌ، والصَّدَقَةُ بُرْهَانٌ، وَالصَّبْرُ ضِيَاءٌ، وَالقُرْآنُ حُجَّةٌ لَكَ أَوْ عَلَيْكَ، كُلُّ النَّاسِ يَغْدُو فَبَائِعٌ نَفْسَهُ فَمُعْتِقُهَا أَو مُوْبِقُهَا (رَوَاهُ مُسْلِمٌ.)

Dari Abu Malik Al-Harits bin ‘Ashim Al-Asy’ari radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Bersuci itu sebagian dari iman, ucapan alhamdulillah (segala puji bagi Allah) itu memenuhi timbangan. Ucapan subhanallah (Mahasuci Allah) dan alhamdulillah (segala puji bagi Allah), keduanya memenuhi antara langit dan bumi. Shalat adalah cahaya, sedekah adalah bukti nyata, kesabaran adalah sinar, Al-Qur’an adalah hujjah yang membelamu atau hujjah yang menuntutmu. Setiap manusia berbuat, seakan-akan ia menjual dirinya, ada yang memerdekakan dirinya sendiri, ada juga yang membinasakan dirinya sendiri.’”(HR. Muslim) [HR. Muslim, no. 223]

Penjabaran ttg hadits tersebut

1. الطُّهُورُ شَطْرُ الإِيْمَان
‘Bersuci itu sebagian dari iman,

Apa hubungan bersuci dengan iman??
Iman itu membersihkan hati kita dari kotoran2 hati
Sedangkan bersuci itu membersihkan jasad lahiriyah kita dari kotoran dan najis

Suatu ibadah memiliki syarat sah yaitu dengan mensucikan lahiriyah diri. Contoh, Syarat sah sholat adalah mensucikan diri dari hadats dan najis. Untuk mensucikan diri tersebut, haruslah dilakukan dengan cara thoharoh (bersuci). Sedangkan sholat adalah bagian dari keimanan. Inilah hubungan anyara bersuci dan keimanan.

2. وَالحَمْدُ للهِ تَمْلأُ المِيْزَانَ،
ucapan alhamdulillah (segala puji bagi Allah) itu memenuhi timbangan.

Meskipun terlihat ringan, tetapi ucapan hamdalah ini bisa memberatkan timbangan kebaikan kita di akhirat kelak.

3. وَسُبْحَانَ اللهِ والحَمْدُ للهِ تَمْلآنِ – أَو تَمْلأُ – مَا بَيْنَ السَّمَاءِ وَالأَرْض

Ucapan subhanallah (Mahasuci Allah) dan alhamdulillah (segala puji bagi Allah), keduanya memenuhi antara langit dan bumi.

Ucapan tasbih dan tahmid tidak hanya memenuhi antara langit dan bumi, tetapi dengan ucapan ini Allah akan meringankan beban kita. Allah akan mudahkan jalan kita. Allah akan bantu kita menemukan solusi untuk setiap masalah kita. Insyaallah


4. وَالصَّلاةُ نُورٌ
Shalat adalah cahaya

Allah SWT berfirman:

يَوْمَ تَرَى الْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنٰتِ يَسْعٰى نُوْرُهُمْ  بَيْنَ اَيْدِيْهِمْ وَبِاَيْمَانِهِمْ بُشْرٰٮكُمُ الْيَوْمَ جَنّٰتٌ تَجْرِيْ مِنْ تَحْتِهَا  الْاَنْهٰرُ خٰلِدِيْنَ فِيْهَا ۗ  ذٰلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيْمُ

"Pada hari engkau akan melihat orang-orang yang beriman laki-laki dan perempuan, betapa cahaya mereka bersinar di depan dan di samping kanan mereka, (dikatakan kepada mereka), Pada hari ini ada berita gembira untukmu, (yaitu) surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Demikian itulah kemenangan yang agung."
(QS. Al-Hadid 57: Ayat 12)

Di akhirat kelak, akan ada orang2 yang berlimpahkan cahaya di seluruh tubuhnya sebagai tanda bahwa orang tersebut adalah orang2 yang semasa hidupnya tidak pernah meninggalkan sholat.

Untuk itu, jangan sampai kita meninggalkan sholat. Karena berapa banyak manusia yang ingin dihidupkan kembali hanya utk melaksanakan sholat.

Sholat juga disebut sebagai pintu ilmu. Sehingga, barang siapa yang istiqomah melaksanakan sholat, insyaallah akan dibukakan pintu2 ilmu untuk dirinya.

5. والصَّدَقَةُ بُرْهَانٌ
sedekah adalah bukti nyata,

Shodaqoh adalah pembuktian dari keimanan kita.

Allah SWT berfirman:

اَرَءَيْتَ الَّذِيْ يُكَذِّبُ بِالدِّيْنِ
"Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama?"
فَذٰلِكَ الَّذِيْ يَدُعُّ الْيَتِيْمَ
"Maka itulah orang yang menghardik anak yatim,"
وَ لَا يَحُضُّ عَلٰى طَعَامِ الْمِسْكِيْنِ
"dan tidak mendorong memberi makan orang miskin."
(QS. Al Ma'un ayat : 1-3)

Pada surat diatas menjelaskan ciri2 orang yang mendustakan agama, salah satunya adalah tidak memberi makan orang miskin (tidak bersedekah). Hal ini menjadi bukti bahwa orang yg tidak mau bersedekah padahal dia mampu bisa dikatakan sebagai pendusta agama, dan orang yang mau bersedekah sebagai orang yang membuktikan keimanan mereka.

6. وَالصَّبْرُ ضِيَاءٌ،
kesabaran adalah sinar

Apa beda sinar dan cahaya. Jika sinar itu biasanya diiringi dengan panas. Seperti sinar matahari. Dan untuk mendapatkan sinar ini, kita harus bisa menahan "panas" yang mengiringinya.

Sabar dibagi menjadi 3 :

1. Sabar dalam ketaatan kepada Allah

2. Sabar dalam menghadapi maksiat

3. Sabar dalam menghadapi takdir

7. وَالقُرْآنُ حُجَّةٌ لَكَ أَوْ عَلَيْكَ
, Al-Qur’an adalah hujjah yang membelamu atau hujjah yang menuntutmu

Al Qur'an bisa menjadi pembela / penolong bagi orang2 yang membacanya.

اِنَّ اﷲَ يَرفَعُ بِهَذِالكِتَابِ اَقْوَامًا وَيَضَعُ بِه اٰخَرِيْنَ

Sesungguhnya Allah mengangkat derajat kaum2 dengan Al Qur'an dan menjatuhkan kaum2 yang lain juga dengan Al Qur'an)

Kekurangannya mohon dimaafkan 🙏

Rangkuman Hadits Arba'in ke 22 oleh Ust. Made Mansyur

Tidak ada komentar:
MASJID AGUNG IBNU BATUTAH
Rangkuman Ceramah Tarawih
22 Ramadan 1440 H
Oleh : Ust. Made Mansyur
Tema : Jalan ke Surga (Hadits Arba'in No. 22)

عن ابي عَبْدِ اللهِ جَابِرِ بنِ عَبْدِ اللهِ الأَنْصَارِيِّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ رَجُلاً سَأَلَ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: “أَرَأَيْتَ إِذا صَلَّيْتُ المَكْتُوبَاتِ، وَصُمْتُ رَمَضَانَ، وَأَحْلَلْتُ الحَلاَلَ، وَحَرَّمْتُ الحَرَامَ، وَلَمْ أَزِدْ عَلى ذَلِكَ شَيئاً أَدْخُلُ الجَنَّةَ؟ قَالَ: نَعَمْ” (رَوَاهُ مُسْلِمٌ)

Dari Abu ‘Abdillah Jarir bin ‘Abdillah Al-Anshari radhiyallahu ‘anhu, bahwa seorang laki-laki bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, ia berkata, “Bagaimana pendapat Anda (kabarkan padaku), apabila aku mengerjakan shalat-shalat fardhu, puasa di bulan Ramadhan, menghalalkan yang halal, mengharamkan yang haram, dan aku tidak menambahnya sedikit pun dari itu, apakah aku akan masuk surga?” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Ya.”(HR. Muslim). [HR. Muslim, no. 15]

Sedikit Penjabaran tentang Hadits tersebut

1. أَنَّ رَجُلاً سَأَلَ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

Bahwa seorang laki-laki bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam

Rasulullah adalah manusia yang menjadi teladan yang baik. Rasulullah adalah tempat para kaum muslimin bertanya terhadap masalah mereka. Tidak ada pertanyaan yang tidak bisa dijawab oleh Rasul. Tidak ada masalah yang tidak bisa Rasul berikan solusinya. Semua masalah dan pertanyaan bisa diselesaikan oleh Rasul. Sehingga pada saat itu sudah menjadi hal biasa untuk datang menemui Rasul untuk menyelesaikan masalah.

2.  إِذا صَلَّيْتُ المَكْتُوبَاتِ
apabila aku mengerjakan shalat-shalat fardhu,

Shalat fardhu yang dikerjakan dengan sebenar2nya sesuai dengan syariat. Dari segi syarat wajib, syarat sah, rukun, sunnah, dan segala yang membatalkan sholat harus diikuti dan dilaksanakan dengan sebenar2nya.

3. وَصُمْتُ رَمَضَانَ
puasa di bulan Ramadhan

Puasa dengan sebenar2nya puasa. Tidak asal2an. Mengikuti peraturan yang ada

4. وَأَحْلَلْتُ الحَلاَلَ، وَحَرَّمْتُ الحَرَام
menghalalkan yang halal, mengharamkan yang haram

Inilah yang paling berat dilakukan. Karena terkadang kita terlena pada sesuatu yang haram dan meninggalkan yang halal. Inilah yang menjadi tanda pantaskah kita masuk ke SurgaNya. Karena banyak sekali orang yang terjerumus kedalam kemaksiatan karena menyepelekan perkara ini. Namun jika kita bisa menjaga diri dengan baik terhadap perkara ini, maka Insyaallah Allah akan selalu menjaga hati dan langkah kita didalam jalan yang lurus.

دَرْءُ الْمَفَاسِدِ مُقَدَّمٌ عَلَىٰ جَلْبِ الْمَصَالِحِ

“Menolak mudharat (bahaya) lebih didahulukan dari mengambil manfaat”

Menjauhi yang haram (mudharat) jauh lebih didahulukan daripada mengambil manfaat (mengerjakan amal sholeh). Karena jika kita bisa mencegah diri kita dari kemudharatan, maka insyaallah kita pun bisa dengan mudah mengambil manfaat (mengerjakan amal sholeh)

5. أَدْخُلُ الجَنَّةَ؟ قَالَ: نَعَمْ
apakah aku akan masuk surga?” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Ya.”

Laki2 tersebut bertanya, apakah dengan melaksanakan hal2 yang disebutkan pada hadits diatas seseorang sudah bisa masuk surga?. Rasul pun menjawab "Bisa"

Kekurangannya mohon dimaafkan 🙏

Rangkuman Hadits Arba'in ke 21 oleh Ust. Imam Nawawi

Tidak ada komentar:
MASJID AGUNG IBNU BATUTAH
Rangkuman Ceramah Tarawih
21 Ramadan 1440 H
Oleh : Ust. Imam Nawawi
Tema : Istiqomah dan Iman (Hadits Arba'in No. 21)

Dari Abu ‘Amr—ada yang menyebut pula Abu ‘Amrah—Sufyan bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Aku berkata: Wahai Rasulullah katakanlah kepadaku suatu perkataan dalam Islam yang aku tidak perlu bertanya tentangnya kepada seorang pun selainmu.” Beliau bersabda, “Katakanlah: aku beriman kepada Allah, kemudian istiqamahlah.” (HR. Muslim) [HR. Muslim, no. 38]

Dalam hadits tersebut dijelaskan bahwa Abu Sufyan bin Abdillah meminta agar Rasul memberikan wasiat kepadanya dimana wasiat tersebut tidak perlu ditanyakan kepada seorangpun selain Rasul.
Lalu Rasul menjawab "Berimanlah kepada Allah kemudian Istiqomahlah (konsisten) diatas tali agama Allah sampai akhir hayat.

istiqomah artinya terus menerus (konsisten) berada di jalur yang lurus, berusaha tetap berada di jalur itu hingga akhir hayat. Berusaha utk selalu menjalankan ketaatan dan meninggalkan hal2 yang dilarang.

Setiap orang seharusnya tetap beristiqomah dalam keimanan. Selalu berusaha sebaik mungkin dan konsisten dalam mengerjakan yang baik2 dan menjauhi laranganNya. Istiqomah bukan berarti seseorang tidak pernah melakukan kesalahan atau dosa. Tetapi, seharusnya jika dia tergelincir dalam perbuatan dosa, dia bertaubat dan kembali beristiqomah ditali agama Allah. Itulah sebabnya, Allah menggandeng perintah istiqomah dengan perintah istighfar.

Allah SWT berfirman:

..... فَاسْتَقِيْمُوْۤا اِلَيْهِ وَاسْتَغْفِرُوْهُ  ....

"... karena itu tetaplah kamu (beribadah) kepada-Nya dan mohonlah ampunan kepada-Nya...."
(QS. Fussilat 41: Ayat 6)

Ibnu Rajab mengatakan, Ayat ini menjelaskan bahwa dalam upaya beristiqomah, selalu ada kekurangan yang kekurangan itu ditutupi dengan beristighfar memohon ampun kepada Allah lalu bangkit kembali untuk beristiqomah.

Dalam beristiqomah hendaknya kita :

1. Selalu berdoa kepada Allah agar dijagakan hati kita dalam kebaikan

2. Senantiasa berusaha utk menjaga lisan dan hati kita

3. Senantiasa belajar mengkaji agama kepada guru2 kita

4. Sering berkumpul bersama orang2 sholeh

5. Banyak beramal sholeh

6. Bersabar karena Allah dalam menghadapi berbagai ujian kehidupan dunia

Istiqomah bukan berarti tidak boleh lelah. Karena dengan lelah kita bisa mengerti "Aku Harus Kuat". Jika kau lelah, istirahatlah sejenak, lalu bangkit lagi. Tetapi jangan berhenti dan menyerah.

الاستيقمۃ خير من الف كرامۃ

Istiqomah itu lebih baik daripada seribu kemuliaan

Kekurangannya mohon dimaafkan 🙏

Jumat, 31 Mei 2019

Rangkuman Hadits Arba'in ke 1 oleh Ustad Drs.H.Sholeh Wahid

Tidak ada komentar:
Intisari dari tausyah tarawih yg di sampaikan Ust. Sholeh tadi malam adalah:

Rasulullah mewasiatkan kita untuk menjalankan niat dg serius. Terlebih lagi dalam niat puasa ramadhan.

1. Niat dg keseriusan
2. Tahapan tahapan dg planing
3. Niat yg terkandung ke istiqomahan.

Mari berusaha mem planning ramadhan ini adalah ramadhan terbaik seumur hidup, tidak akan pernah bermain main.

Bertekad bulat & yakin akan janji Allah. Yakin bahwa Allah akan merubah hidup kita mjd lebih baik, Allah akan menolong urusan kita. Maka kita niatkan semuanya karna Allah.

Niat yg bulat, niat utk ibadah, singkirkan hp kita sejenak karna waktu terbaik ini adalah waktu utk berzikir.

Benar benar penuh dg kesungguhan.

#SpiritRamadhan
#DariMasjidKitaBangkit

Panitia Ramadhan YASMAIBA

Rangkuman Hadits Arba'in ke 19 oleh Ustad Siswo Susetyo

Tidak ada komentar:
HADITS KESEMBILAN BELAS

عَنْ أَبِي الْعَبَّاسِ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ : كُنْتُ خَلْفَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْماً، فَقَالَ : يَا غُلاَمُ إِنِّي أُعَلِّمُكَ
كَلِمَاتٍ: اْحْفَظِ اللهَ يَحْفَظْكَ، احْفَظِ اللهَ تَجِدْهُ تُجَاهَكَ، إِذَا سَأَلْتَ فَاسْأَلِ اللهَ وَإِذَا اسْتَعَنْتَ فَاسْتَعِنْ بِاللهِ، وَاعْلَمْ أَنَّ اْلأُمَّةَ لَوْ اجْتَمَعَتْ عَلَى أَنْ يَنْفَعُوْكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَنْفَعُوْكَ إِلاَّ بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللهُ لَكَ، وَإِنِ اجْتَمَعُوا عَلَى أَنْ يَضُرُّوْكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَضُرُّوْكَ إِلاَّ بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللهُ عَلَيْكَ، رُفِعَتِ اْلأَقْلاَمُ وَجَفَّتِ الصُّحُفِ
[رواه الترمذي وقال : حديث حسن صحيح وفي رواية غير الترمذي: احْفَظِ اللهَ تَجِدْهُ أَمَامَكَ، تَعَرَّفْ إِلَى اللهِ فِي الرَّخَاءِ يَعْرِفْكَ فِي الشِّدَّةِ، وَاعْلَمْ أَنَّ مَا أَخْطَأَكَ لَمْ يَكُنْ لِيُصِيْبَكَ، وَمَا أَصَابَكَ لَمْ يَكُنْ لِيُخْطِئَكَ، وَاعْلَمْ أَنَّ النَّصْرَ مَعَ الصَّبْرِ، وَأَنَّ الْفَرَجَ مَعَ الْكَرْبِ وَأَنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْراً].

Terjemah hadits / ترجمة الحديث :
Dari Abu Al Abbas Abdullah bin Abbas radhiallahuanhuma, beliau berkata : Suatu saat saya berada dibelakang nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam, maka beliau bersabda : Wahai ananda, saya akan mengajarkan kepadamu beberapa perkara: Jagalah Allah ), niscaya dia akan menjagamu, Jagalah Allah niscaya Dia akan selalu berada dihadapanmu ). Jika kamu meminta, mintalah kepada Allah, jika kamu memohon pertolongan, mohonlah pertolongan kepada Allah. Ketahuilah sesungguhnya jika sebuah umat berkumpul untuk mendatangkan manfaat kepadamu atas sesuatu, mereka tidak akan dapat memberikan manfaat sedikitpun kecuali apa yang telah Allah tetapkan bagimu, dan jika mereka berkumpul untuk mencelakakanmu atas sesuatu , niscaya mereka tidak akan mencelakakanmu kecuali kecelakaan yang telah Allah tetapkan bagimu. Pena telah diangkat dan lembaran telah kering ) .
(Riwayat Turmuzi dan dia berkata : Haditsnya hasan shahih). Dalam sebuah riwayat selain Turmuzi dikatakan : Jagalah Allah, niscaya engkau akan mendapatkan-Nya didepanmu. Kenalilah Allah di waktu senggang niscaya Dia akan mengenalmu di waktu susah. Ketahuilah bahwa apa yang ditetapkan luput darimu tidaklah akan menimpamu dan apa yang ditetapkan akan menimpamu tidak akan luput darimu, ketahuilah bahwa kemenangan bersama kesabaran dan kemudahan bersama kesulitan dan kesulitan bersama kemudahan).

Pelajaran yang terdapat dalam hadits / الفوائد من الحديث :
1. Perhatian Rasulullah shollallohu ‘alaihi wa sallam dalam mengarahkan umatnya serta menyiapkan generasi mu’min idaman.

2. Termasuk adab pengajaran adalah menarik perhatian pelajar agar timbul keinginannya terhadap pengetahuan sehingga hal tersebut lebih terkesan dalam dirinya.

3. Siapa yang konsekwen melaksanakan perintah-perintah Allah, nicsaya Allah akan menjaganya di dunia dan akhirat.

4. Beramal saleh serta melaksanakan perintah Allah dapat menolak bencana dan mengeluarkan seseorang dari kesulitan.

5. Tidak mengarahkan permintaan apapun (yang tidak dapat dilakukan makhluk) selain kepada Allah semata.

6. Manusia tidak akan mengalami musibah kecuali berdasarkan ketetapan Allah ta’ala .

7. Menghormati waktu dan menggunakannya kepada sesuatu yang bermanfaat sebagaimana Rasulullah shollallohu ‘alaihi wa sallam memanfaatkan waktunya saat beliau berkendaraan.

Rangkuman Hadits Arba'in ke 20 oleh Ustad Fajar Budiman

Tidak ada komentar:
MASJID AGUNG IBNU BATUTAH
Rangkuman Ceramah Tarawih
20 Ramadan 1440 H
Oleh : Ust. Fajar Budiman
Tema : Malu sebagian dari Iman

Malu adalah perisai dan mahkota kaum muslimin.

Imam Nawawi pernah berkata "Seseorang akan meninggal sesuai dengan kebiasaannya."
Jika seseorang terbiasa melakukan kebaikan maka ia akan wafat dengan akhir yang baik begitupula sebaliknya.

Hal ini juga berlaku bagi orang yang bisa menjaga malunya. Jika dia bisa menjaga malunya, maka di akhirat kelaj Allah juga akan menjaganya dan menutupi aibnya. Begitu pula jika dia tidak bisa menjaga malunya, maka Allah pun akan membuka aib2nya di akhirat kelak. Naudzubillahi min dzalik

Padahal setiap anak adalah investasi utk orangtuanya. Orangtua bisa masuk surga ataupun terjerumus ke neraka ialah salahsatu penyebabnya adalag karena akhlak anaknya. Inilah pentingnya kita menjaga malu. Guna menjaga diri sendiri dan orang yang kita kasihi.

Beberapa keutamaan Malu :

1. Malu tidak akan mendatangkan apapun selain kebaikan

2. Malu adalah salah satu cabang keimanan

Rasulullah SAW pernah bersabda "Iman itu ada 70 atau 60 cabang lebih, yang paling utama adalah ucapan  لااله الا الله  sedangkan yang paling rendahnya adalah menyingkirkan sesuatu yang mengganggu dari jalan, dan malu itu salah satu cabang keimanan

3. Allah mencintai hambaNya yang malu

4. Malu adalah akhlak islam

Rasulullah SAW pernah bersabda "Sesungguhnya Setiap agama memiliki akhlak. Dan akhlak yang terbaik adalah akhlak malu"

5. Malu sebagai pencegah pemiliknya dari kemaksiatan.

6. Malu akan mengantarkan seseorang ke Surga

Mulai sekarang, mari kita tanamkan sikap malu pada diri sendiri atau orang terkasih kita. Malu utk berbuat maksiat, malu untuk membangkang perintah Allah, serta malu untuk mengerjakan segala keburukan.

الحياءمن الايمان
Malu sebagian dari iman

Kekurangannya mohon dimaafkan 🙏

Rangkuman Hadits Arba'in ke 18 oleh Ustad Nawawi

Tidak ada komentar:
MASJID AGUNG IBNU BATUTAH
Rangkuman Ceramah Tarawih
18 Ramadan 1440 H
Oleh : Ust. Nawawi
Tema : Bertaqwa dan Beramal Sholeh

Secara garis besar, Taqwa adalah menjalankan segala perintah Allah dan menjauhi laranganNya.

Bertaqwa keoada Allah selalu menjadi kalimat pertama Rasul di setiap Khatbahnya.
Ceramah yang disampaikan Ust. Nawawi Menjelaskan bahwa bertaqwa itu ada beberapa caranya :

1. Mendirikan Shalat Fardhu maupun Sunnah
Tidak hanya Shalat farddhu saja yang perlu ditegakkan, tetapi shalat sunnah pun juga harus didirikan. Karena dari shalat sunnah inilah yang akan menyempurnakan shalat fardhu kita serta Allah pun menjanjikan berbagai ganjaran kebaikan bagi yang mendirikan shalat sunnah

Allah SWT berfirman:

وَاسْتَعِيْنُوْا بِالصَّبْرِ وَالصَّلٰوةِ  ۗ  وَاِنَّهَا لَكَبِيْرَةٌ اِلَّا عَلَى الْخٰشِعِيْنَ

"Dan mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan sholat. Dan (sholat) itu sungguh berat kecuali bagi orang-orang yang khusyuk,"
(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 45)

Betapa pentingnya shalat bagi kaum muslimin. Allah memerintahkan pada kita untuk meminta pertolongan dengan sabar dan shalat. Dalam ayat tersebut juga sudah dikatakan bahwa shalat itu berat. Shalat itu berat karena ganjarannya adalah SurgaNya Allah. Sedang shalat itu berat kecuali untuk orang2 yang khusyuk. Dan tempat bagi Orang2 yang khusyuk adalah surga.

Allah juga menjanjikan ganjaran yang luar biasa bagi orang yang juga mendirikan Shalat Sunnah. Seperti pada hadits nabi :

مَنْ ثَابَرَ عَلَى ثِنْتَىْ عَشْرَةَ رَكْعَةً مِنَ السُّنَّةِ بَنَى اللَّهُ لَهُ بَيْتًا فِى الْجَنَّةِ أَرْبَعِ رَكَعَاتٍ قَبْلَ الظُّهْرِ وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَهَا وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَ الْمَغْرِبِ وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَ الْعِشَاءِ وَرَكْعَتَيْنِ قَبْلَ الْفَجْرِ

“Barangsiapa merutinkan shalat sunnah dua belas raka’at dalam sehari, maka Allah akan membangunkan bagi dia sebuah rumah di surga. Dua belas raka’at tersebut adalah empat raka’at sebelum  zhuhur, dua raka’at sesudah zhuhur, dua raka’at sesudah maghrib, dua raka’at sesudah ‘Isya, dan dua raka’at sebelum shubuh.”

Hadits tersebut membicarakan tentang shalat Rawatib yang dilaksanakan sebanyak 12 rakaat dalam sehari semalam, yaitu :

a. 4 rakaat sebelum dzuhur
b. 2 rakaat sesudah dsuhur
c. 2 rakaat sesudah maghrib
d. 2 rakaat sesudah isya'
e. 2 rakaat sebelum shubuh

2. Berpuasa

Sebagaimana Allah menjelaskan pada FirmanNya :
Allah SWT berfirman:

يٰٓـاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْکُمُ الصِّيَامُ کَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِکُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَ

"Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertakwa,"
(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 183)

Dalam ayat tersebut sudah secara terang menjelaskan bahwa Allah mewajibkan kita berpuasa agar kita menjadi orang yang bertaqwa

Berusaha menjadi orang yang bertaqwa adalah sesuatu yang harus dilaksanakan sampai ajal menjemput. Jangan sampai kita hanya berusaha di waktu2 tertentu saja. Berusahalah setiap hari, karena Allah melihat usaha kita

Kekurangannya mohon dimaafkan 🙏

Rangkuman Hadits Arba'in ke 17 oleh Ustad Suherman

Tidak ada komentar:
MASJID AGUNG IBNU BATUTAH
Rangkuman Ceramah Tarawih
17 Ramadan 1440 H
Oleh : Ust. Suherman
Tema : Berbuat Baik dalam Segala Hal (Hadits Arbain No. 17)

انّ اللَّهَ كَتَبَ الإِحْسَانَ عَلَى كُلِّ شَىْءٍ فَإِذَا قَتَلْتُمْ فَأَحْسِنُوا الْقِتْلَةَ وَإِذَا ذَبَحْتُمْ فَأَحْسِنُوا الذَّبْحَةَ وَلْيُحِدَّ أَحَدُكُمْ شَفْرَتَهُ وَلْيُرِحْ ذَبِيحَتَهُ

“Sesungguhnya Allah memerintahkan berbuat baik terhadap segala sesuatu. Jika kalian hendak membunuh, maka bunuhlah dengan cara yang baik. Jika kalian hendak menyembelih, maka sembelihlah dengan cara yang baik. Hendaklah kalian menajamkan pisaunya dan senangkanlah hewan yang akan disembelih.”  (HR. Muslim) [HR. Muslim, no. 1955, Bab “Perintah untuk berbuat baik ketika menyembelih dan membunuh dan perintah untuk menajamkan pisau"

Hadits tersebut menjabarkan bahwa kita harus berbuat ihsan kepada segala sesuatu.

1. Berbuat baik kepada sesama manusia

Allah SWT berfirman:

اِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْاِحْسَانِ وَاِيْتَآىِٕ ذِى الْقُرْبٰى وَيَنْهٰى عَنِ الْفَحْشَآءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ ۚ  يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ

"Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi bantuan kepada kerabat, dan Dia melarang (melakukan) perbuatan keji, kemungkaran, dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran."
(Qs. An Nahl : 90)

Dari ‘Aisyah radhiallahu ‘anha, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ الله يُحِبُّ إِذَا عَمِلَ أَحَدُكُمْ عَمَلاً أَنْ يُتْقِنَهُ.
“Sesungguhnya Allah menyukai jika  kalian melakukan perbuatan  dilakukan   secara itqan (sempurna).” (HR. Al Baihaqi)

2. Melakukan perbuatan dengan cara terbaik. Juga termasuk didalamnya ketika dalam situasi dan kondisi yang emosional, seperti peperangan.

 Karena umumnya, disaat peperangan terjadi, manusia yg terlibat didalamnya akan menjadi brutal. Bagaimana suatu kaum bisa memenangkan peperangan jika mereka tidak bisa menahan diri mereka dan melakukan sesuatu yang baik, misal terhadap musuh. Bahkan, jika suatu kaum hendak membunuh kaum yang "halal" darahnya, maka hendaklah mereka membunuh dengan cara tercepat supaya tidak menyiksa musuh tersebut

3. Melakukan perbuatan baik kepada makhkuk lain, seperti hewan ternak. Baik ketika mereka hidup, ketika dalam pemeliharaan, ataupun ketika hendak disembelih untuk keperluan hidup manusia

Sedikit penjabaran lafadzh hadits tersebut

1. انّ اللَّهَ كَتَبَ
Sesungguhnya Allah memerintahkan

Menurut para ulama ushul, lafadh tersebut membawa makna wajib.

2. الإِحْسَانَ عَلَى كُلِّ شَىْءٍ
berbuat baik terhadap segala sesuatu

Kata Ihsan disini adalah perbuatan yang sempurna. Lalu secara syarah, kata ihsan dijelaskan pada penggelan hadits nabi yang berbunyi :

...فَأَخْبِرْنِيْ عَنِ الإِحْسَانِ, قَالَ :أَنْ تَعْبُدَ اللهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ...
_....“Beritahukan kepadaku tentang ihsan”.
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,”Hendaklah engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihatNya. Kalaupun engkau tidak melihatNya, sesungguhnya Dia melihatmu.”..._

3. فَإِذَا قَتَلْتُمْ فَأَحْسِنُوا الْقِتْلَة
Jika kalian hendak membunuh, maka bunuhlah dengan cara yang baik.

Bunuhlah dengan cara terbaik dan tercepat. Jangan membunuh anak2, wanita, dan orang tua renta. _(yang dibolehkan dibunuh adalah mereka2 yang dihalalkan darahnya sesuai syariat)

4. وَإِذَا ذَبَحْتُمْ فَأَحْسِنُوا الذَّبْحَةَ وَلْيُحِدَّ أَحَدُكُمْ شَفْرَتَهُ وَلْيُرِحْ ذَبِيحَتَهُ
Jika kalian hendak menyembelih, maka sembelihlah dengan cara yang baik. Hendaklah kalian menajamkan pisaunya dan senangkanlah hewan yang akan disembelih

Ketika kita hendak menyembelih hewan untuk kebutuhan kita, maka kita harus menyembelihnya dengan cara yang baik. Kita dilarang memperlakukan hewan sembelihan dengan cara yang kejam. Adapun beberapa cara yang dilakukan dalam penyembelihan hewan :
1. Menyebut Nama Allah ketika menyembelih
2. Menajamkan alat yang digunakan untuk menyembelih
3. Menyediakan tempat penyembelihan yang baik sehingga tidak membuat hewan lain mengalami trauma
4. Menyembelih pada bagian tubuh yang sekiranya dapat membuat hewan tersebut cepat mati sehingga tidak menyiksa hewan tersebut.
5. Diperlakukan secara lembut dan tidak boleh diperlakukan secara kejam
6. Menyembunyikan alat yang digunakan untuk menyembelih,  agar tidak membuat hewab menjadi stress bahkan trauma

Allah memerintahkan kita untuk selalu berbuat baik kepada segala sesuatu, tidak hanya kepada sesama manusia, bahkan sesama makhkuk Allah yang lain.

Kekurangannya mohon dimaafkan 🙏

Rangkuman Hadits Arba'in ke 16 oleh Ustad Hidayat

Tidak ada komentar:
MASJID AGUNG IBNU BATUTAH
Rangkuman Ceramah Tarawih
16 Ramadan 1440 H
Oleh : Ust. Hidayat
Tema : Jangan Marah!! Maka bagimu Surga (Hadits Arbain No. 16)

عن ابِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَجُلًا قَالَ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَوْصِنِي قَالَ لَا تَغْضَبْ فَرَدَّدَ مِرَارًا قَالَ لَا تَغْضَبْ
(رَوَاهُ البُخَارِی)

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata, seorang lelaki berkata kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Berilah aku wasiat.” Beliau menjawab, “Janganlah engkau marah.” Lelaki itu mengulang-ulang permintaannya, (namun) Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam (selalu) menjawab, “Janganlah engkau marah.” (HR. Bukhari) [HR. Bukhari, no. 6116]

Rasulullah mewasiatkan pada kita suatu wasiat yang sangat baik. Wasiatnya adalah Jangan Marah
Wasiat tersebut tercermin pada diri Rasulullah sendiri. Rasul adalah manusia paling welas asih seantero alam. Bahkan Rasul tidak marah ketika kaum kafir melempari beliau dengan kotoran, mengatai beliau dengan cacian yang menyakitkan hati. Bahkan para Malaikat yang menyaksikan kehadian tersebut sampai menawarkan pada Nabi suatu penawaran yang jika nabi menerimanya, maka akan langsung dikabulkan. Malaikat berkata "jika kau mau aku meluluhlantahkan bumi yang mereka (kaum kafir yang menghina nabi) pijak, maka sekarang juga aku akan laksanakan"

Tetapi Nabi tidak menerima tawaran itu dan memilih untuk memaafkan mereka. Bahkan Nabi mendoakan mereka dengan doa yang sangat lembut
 اللهم اهدي قومي
Yaa Allah berikanlah hidayah kepada kaumku
Nabi berdoa seperti ini, karena tidak ada yang tau jika nantinya bisa saja keturunan kaum kafir tersebut adalah seorang kafir atau seorang muslim. Itu sebabnya, Nabi mendoakan kebaikan utk mereka.

Kita sebagai umat nabi, sudah sepantasnya meniru Nabi. Jika nabi adalah seorang pemaaf, maka seharusnya kita pun bisa menjadi seorang yang pemaaf.

Allah SWT berfirman:

وَسَارِعُوْۤا اِلٰى مَغْفِرَةٍ مِّنْ رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمٰوٰتُ  وَالْاَرْضُ ۙ  اُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِيْنَ
الَّذِيْنَ يُنْفِقُوْنَ فِى السَّرَّآءِ وَالضَّرَّآءِ وَالْكٰظِمِيْنَ الْغَيْظَ وَالْعَافِيْنَ عَنِ النَّاسِ ۗ  وَاللّٰهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِيْنَ

"Dan bersegeralah kamu mencari ampunan dari Tuhanmu dan mendapatkan surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa,"

"(yaitu) orang-orang yang berinfak, baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain. Dan Allah mencintai orang yang berbuat kebaikan."
(QS. Ali 'Imran 3: Ayat 133-134)

Dalam ayat tersebut dijelaskan bahwa Allah memerintahkan kita untuk bersegera mencari ampun kepada Allah. Serta Allah menjanjikan sebuah ganjaran kebaikan yaitu surga yang luasnya seluas langit dan bumi bagi orang2 yang bertaqwa.

Lalu siapakah orang2 yang bertaqwa itu??
Dia ayat selanjutnya, dijelaskan bahwa orang2 bertaqwa ialah :

1. Orang yang Berinfaq dikala lapan maupun sempit

2. Orang yang bisa menahan amarahnya

3. Orang yang memaafkan orang lain

Mudah2an kita bisa selalu berusaha dalam memenuhi perintah Allah dan RasulNya sehingga kita bisa menjadi orang yang bertaqwa dihadapan Allah.
Aamiin Yaa robbal Alamiin

Kekurangannya mohon dimaafkan 🙏

Rangkuman Hadits Arba'in ke 15 oleh Ustad Lalu Syukur Bahri

Tidak ada komentar:
MASJID AGUNG IBNU BATUTAH
Rangkuman Ceramah Tarawih
15 Ramadan 1440 H
Oleh : Ust. Lalu Syukur Bahri
Tema : Dari sifat-sifat keimanan (Hadits Arbain No. 15)

Definisi iman menurut para pakar Aswaja

1. التصديق باالقلب
Di benarkan oleh hati
Jadi apapun kegiatan yang dibenarkan oleh hati, maka itulah yg disebut keimanan

2. والاكرار بأالسان
Diikrarkan oleh lisan

3. والعمل باالاركان
Dikerjakan dengan perbuatan

Adapun hadits yang menjabarkan tentang keimanan :

عن أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ تَعَالَى عَنْهُ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَاليَوْمِ الآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْراً أَوْ لِيَصْمُتْ، وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَاليَوْمِ الآخِرِ فَلْيُكْرِمْ جَارَهُ، وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَاليَوْمِ الآخِرِ فَلْيُكْرِمْ ضَيْفَهُ.
(رَوَاهُ البُخَارِيُّ وَمُسْلِمٌ.)

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Siapa saja yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam. Siapa saja yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia memuliakan tetangganya. Siapa saja yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia memuliakan tamunya.”
(HR. Bukhari dan Muslim) [HR. Bukhari, no. 6018, 6019, 6136, 6475 dan Muslim, no. 47]

Dari hadits tersebut, kita bisa merangkum apa2 saja yg hendaknya para muslimin kerjakan jika mereka beriman pada Allah dan hari akhir

1. Berkata yang baik, jika tidak bisa maka diam

2. Memuliakan tetangga

3. Memuliakan tamu

Selain itu, kami akan menjabarkan sifat2 orang beriman yang kami rangkum dari ceramah Ust. Lalu Syukur :

1. Allah SWT berfirman:

اِنَّمَا الْمُؤْمِنُوْنَ الَّذِيْنَ اِذَا ذُكِرَ اللّٰهُ وَجِلَتْ قُلُوْبُهُم....

"Sesungguhnya orang-orang yang beriman adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetar hatinya,
(QS. Al-Anfal 8: Ayat 2)

2....وَاِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ اٰيٰتُهٗ زَادَتْهُمْ اِيْمَانًا ....
dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, bertambah (kuat) imannya
(QS. Al-Anfal 8: Ayat 2)

3. ...وَّعَلٰى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُوْنَ 
dan hanya kepada Tuhan mereka bertawakal,"
(QS. Al-Anfal 8: Ayat 2)

4. اقيم الصلوۃ
Mendirikan Shalat

5. اتوالزكاۃ
Menunaikan zakat

Kesimpulannya, Iman adalah segala sesuatu yang dibenarkan oleh hati, lalu apa yang dibenarkan oleh hati itu diikrarkan oleh lisan serta dilaksanakan dengan perbuatan.

Kekurangannya mohon dimaafkan 🙏

Rangkuman Hadits Arba'in ke 14 oleh Ust. Tubagus Jaja Marjuki

Tidak ada komentar:
MASJID AGUNG IBNU BATUTAH
Rangkuman Ceramah Tarawih
14 Ramadan 1440 H
Oleh : Ust. Tubagus Jaja Marjuki
Tema : Haramnya Darah Seorang Muslim (Hadits Arbain No. 14)

Tidak halal darah seorang muslim. Jangankan darahnya, menyakiti seorang muslim dengan perkataan yang menyakitkan, meskipun sakitnya tidak terlihat, itu saja dilarang oleh agama.

Lidah adalah anggota tubuh yang tidak bertulang. Lidah juga adalah anggota tubuh manusia yang paling banyak menjerumuskan manusia kedalam neraka. Menyakiti perasaan orang lain, berbohong, bahkan memfitnah dikatakan lebih kejam daripada pembunuhan. Kita sudah banyak melihat kejadian saling membunuh, saling bermusuhan yg diawali dari satu anggota tubuh yang satu ini, lidah.

Oleh karena itulah, kita harus menjaga lisan kita dari segala hal2 buruk yang bisa merugikan diri sendiri bahkan orang lain. Karena hal itu bisa saja menjerumuskan kkta kedalam azab yang pedih. Naudzubillah min dzalik

Tetapi, lidah juga bisa membawa seseorang itu masuk ke dalam nikmat yang abadi, Syurga. Dengan menjaga lisannya, sehingga dia menjaga dirinya sendiri dan orang lain. Serta Allah akan memberi balasan utk orang2 yang beriman dan beramal sholeh dengan sebaik2 balasan.

Allah SWT berfirman:

وَبَشِّرِ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَ عَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ اَنَّ لَهُمْ جَنّٰتٍ تَجْرِيْ مِنْ تَحْتِهَا الْاَنْهٰرُ  ۗ  كُلَّمَا رُزِقُوْا مِنْهَا مِنْ ثَمَرَةٍ رِّزْقًا  ۙ  قَالُوْا هٰذَا الَّذِيْ رُزِقْنَا مِنْ قَبْلُ وَاُتُوْا بِهٖ مُتَشَابِهًا  ۗ  وَلَهُمْ فِيْهَآ اَزْوَاجٌ مُّطَهَّرَةٌ  ۙ  وَّهُمْ فِيْهَا خٰلِدُوْنَ

"Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang beriman dan berbuat kebajikan, bahwa untuk mereka (disediakan) surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Setiap kali mereka diberi rezeki buah-buahan dari surga, mereka berkata, Inilah rezeki yang diberikan kepada kami dahulu. Mereka telah diberi (buah-buahan) yang serupa. Dan di sana mereka (memperoleh) pasangan-pasangan yang suci. Mereka kekal di dalamnya."
(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 25)

Adapun berkaitan dengan tema ini, bahwa ada suatu hadits dengan redaksi :

عَنِ ابْنِ مَسْعُوْدٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لاَ يَحِلُّ دَمُّ امْرِئٍ مُسْلِمٍ إِلاَّ بِإِحْدَى ثَلاَثٍ: الثَّيِّبُ الزَّانِي، وَالنَّفْسُ بِالنَّفْسِ، وَالتَّارِكُ لِدِيْنِهِ المُفَارِقُ لِلْجَمَاعَةِ
رَوَاهُ البُخَارِيُّ وَمُسْلِمٌ.

Dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda, ‘Tidak halal darah seorang muslim kecuali karena salah satu dari tiga sebab: (1) orang yang telah menikah yang berzina, (2) jiwa dengan jiwa (membunuh), (3) orang yang meninggalkan agamanya (murtad), lagi memisahkan diri dari jamaah kaum muslimin.” (HR. Bukhari dan Muslim)  (HR. Bukhari dan Muslim) [HR. Bukhari, no. 6878 dan Muslim, no. 1676]

Dalam hadits tersebut, secara umum darah seorang muslim itu haram kecuali jika orang tersebut melakukan 3 hal yang membuat darahnya menjadi halal (boleh dibunuh) yaitu:

1. Orang yg telah menikah yg berzina
2. Jiwa dengan jiwa (saling membunuh)
3. Orang yang murtad
( tetapi hukum ini tidak diberlakukan dinegara kita )
Kami akan menjelaskan salah satu dari 3 hal yg membuat darah seorang muslim menjadi halal, yaitu saling membunuh. Dewasa ini, kita melihat banyak sekali sesama manusia secara umum dan sesama muslim saling membunuh. Alasannya beragam, tetapi kebanyakan memiliki awal penyebab yang sama, yaitu hal2 yang berasal dari lisan. Entah karena si pembunuh sakit hati oleh perkataan yang dibunuh, entah karena fitnah, entah karena ada yang mengadu domba si pembunuh dan yang membunuh. Inilah bahayanya anggota tubuh yang kita sebut lisan itu.

Itu sebabnya, selain kita secara sadar harus menjaga lisan kita dari segala hal2 yang merugikan kita dan orang lain , hendaklah kita juga bersegara meminta maaf serta memohon ampun apabila kita mungkin secara tidak sadar mengeluarkan kata2 yang mungkin menyakitkan atau mungkin sampai menimbulkan hal2 yang berakibat buruk nantinya.

Allah SWT berfirman:

وَسَارِعُوْۤا اِلٰى مَغْفِرَةٍ مِّنْ رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمٰوٰتُ  وَالْاَرْضُ ۙ  اُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِيْنَ

"Dan bersegeralah kamu mencari ampunan dari Tuhanmu dan mendapatkan surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa,"
(QS. Ali 'Imran 3: Ayat 133)

Kekurangannya mohon dimaafkan 🙏

Rangkuman Hadits Arba'in ke 13 oleh Ustad Drs.H.Imam muhayat,MA

Tidak ada komentar:
MASJID AGUNG IBNU BATUTAH
Rangkuman Ceramah Tarawih
13 Ramadan 1440 H
Oleh : Ust. Drs. H. Imam Muhayat, MA
Tema : Persaudaraan Iman dan Islam (Hadits Arbain No. 13)

عن ابي حَمْزَةَ أَنَسٍ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ – خَادِمِ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: ” لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيْهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ ” رَوَاهُ البُخَارِيُّ وَمُسْلِمٌ

Dari Abu Hamzah Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu,pembantu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda, “Salah seorang di antara kalian tidaklah beriman (dengan iman sempurna) sampai ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.” (HR. Bukhari dan Muslim)
[HR. Bukhari, no. 13 dan Muslim, no. 45]

Sedikit Penjabaran tentang Hadits tersebut

1. لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيْهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ
Salah seorang di antara kalian tidaklah beriman (dengan iman sempurna) sampai ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri
Maksudnya : Seseorang dikatakan beriman dengan iman yang sempurna ialah ketika seseorang tersebut mencintai saudaranya (sesama manusia) seperti ia mencintai dirinya sendiri.

Setiap manusia pasti mencintai dirinya sendiri. Karena manusia mencintai dirinya, maka dia akan menjaga dirinya. Menjaga dirinya dari segala sesuatu yang menyakitinya, dari sesuatu yang menyesatkannya, dari sesuatu yang mencelakakannya, dan dari segala sesuatu yang ditakutkan bisa membawa dampak buruk pada dirinya. Inilah yang dimaksud mencintai diri sendiri.

Dalam redaksi hadits tersebut dijelaskan bahwa jika seseorang ingin dikatakan beriman dengan iman yang sempurna, maka dia harus mencintai saudaranya seperti mencintai dirinya sendiri. Jika dia tidak mau tubuhnya terluka, maka dia tidak boleh membuat saudaranya (sesama manusia) juga terluka tubuhnya. Jika dia tidak ingin dirinya terjebak dalam kesesatan, maka dia juga harus menjaga saudaranya dari kesesatan, misal dengan selalu mengingatkan pada kebaikan dan lain sebagainya.

Dan segala sesuatu akan dibalas sesuai dengan niat dan perbuatannya. Jika kita bisa menjaga dan mencintai saudara kita, maka saudara kita pun juga akan menjaga dan mencintai kita. Apa yang kita inginkan seseorang melakukan pada kita, maka kita haruslah terlebih dulu melakukannya.

Kekurangannya mohon dimaafkan 🙏

Rangkuman Hadits Arba'in ke 12 oleh Ust. Imam Suyuti, Lc

Tidak ada komentar:
MASJID AGUNG IBNU BATUTAH
Rangkuman Ceramah Tarawih
12 Ramadan 1440 H
Oleh : Ust. Imam Suyuti, LC
Tema : Kesempurnaan Islam Seseorang (Hadits Arbain No. 12)

عن أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ، قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ” مِنْ حُسْنِ إِسْلاَمِ المَرْءِ تَرْكُهُ مَا لاَ يَعْنِيْهِ ” حَدِيْثٌ حَسَنٌ رَوَاهُ التِّرْمِذِيُّ وَغَيْرُهُ هَكَذَا


Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Di antara kebaikan islam seseorang adalah meninggalkan hal yang tidak bermanfaat.” (Hadits Hasan, diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi dan lainnya semisal itu pula)

[HR. Tirmidzi, no. 2317; Ibnu Majah, no. 3976.]

Sedikit Penjabaran tentang Hadits tersebut

مِنْ حُسْنِ إِسْلاَمِ المَرْءِ تَرْكُهُ مَا لاَ يَعْنِيْهِ
Di antara kebaikan islam seseorang adalah meninggalkan hal yang tidak bermanfaat.

Maksudnya : Seseorang Muslim yang meninggalkan hal yang tidak bermanfaat, maka tindakan itu merupakan suatu kebaikan dan insyaallah akan dibalas dengan kebaikan pula (pahala)

Umumnya, manusia sering menyepelekan 2 nikmat yang diberikan Allah. Yaitu nikmat Sehat dan nikmat Sempat.

Allah SWT berfirman:

وَالْعَصْرِ
"Demi masa."
اِنَّ الْاِنْسَانَ لَفِيْ خُسْرٍ
"Sungguh, manusia berada dalam kerugian,"
اِلَّا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَ عَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ    ۙ  وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ
"kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling menasihati untuk kebenaran dan saling menasihati untuk kesabaran."
(QS. Al-'Asr 103: Ayat 1 s/d 3)

Dalam kalamNya, Allah bersumpah Demi Masa yang menandakan waktu itu sangatlah penting. Bahkan Allah bersumpah dengan menggunakannya

Manusia dikatakan rugi jika tidak menggunakan salah satu nikmat yang diberikan oleh Allah, yaitu "Waktu"

Itu sebabnya,orang2 yang dikatakan tidak merugi adalah orang yang beriman. Meyakini dan mempercayai Terhadap Allah serta mengerjakan perbuatan yang mendukung kepercayaan itu. Serta saling menasihati dalam kebaikan dan kesabaran terhadap sesama manusia, karena manusia adalah makhluk sosial yang dimana manusia tidak akan bisa hidup sendiri.

Ini menjelaskan keseimbangan hubungan terhadap Sang Pencipta dan hubungan pada makhlukNya. Lalu menghindarkan diri dari kerugian dengan mempergunakan waktu dengan sebaik mungkin untuk hal yang bermanfaat bagi dirinya dan orang lain.

Kekurangannya mohon dimaafkan 🙏

Rangkuman Hadits Arba'in ke 10 Oleh Ust. Hasan Sadzali, S.Tp, MA

Tidak ada komentar:
Rangkuman Ceramah Tarawih
10 Ramadan 1440 H
Oleh : Ust. Hasan Sadzali, S.Tp., MA
Tema : Tidak diterima kecuali yang Baik (Hadits Arba'in no.10)

عنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِنَّ اللهَ طَيِّبٌ لاَ يَقْبَلُ إِلاَّ طَيِّباً، وَإِنَّ اللهَ أَمَرَ المُؤْمِنِيْنَ بِمَا أَمَرَ بِهِ المُرْسَلِيْنَ فَقَالَ {يَا أَيُّهَا الرُّسُلُ كُلُوْا مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَاعْمَلُوا صَالِحًا} وَقَالَ تَعَالَى {يَا أَيُّهَا الذِّيْنَ آمَنُوا كُلُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ} ثُمَّ ذَكَرَ الرَّجُلَ يُطِيْلُ السَّفَرَ أَشْعَثَ أَغْبَرَ يَمُدُّ يَدَيْهِ إِلَى السَّمَاءِ: يَا رَبِّ يَا رَبِّ، وَمَطْعَمُهُ حَرَامٌوَمَلْبَسُهُ حَرَامٌ وَغُذِيَ بِالحَرَامِ فَأَنَّى يُسْتَجَابُ لَه(ُ.رَوَاهُ مُسْلِمٌ.)

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Sesungguhnya Allah Ta’ala itu baik (thayyib), tidak menerima kecuali yang baik (thayyib). Dan sesungguhnya Allah memerintahkan kepada kaum mukminin seperti apa yang diperintahkan kepada para Rasul. Allah Ta’ala berfirman, ‘Wahai para rasul, makanlah dari makanan yang baik-baik, dan kerjakanlah amal shalih.’ (QS. Al-Mu’minun: 51). Dan Allah Ta’ala berfirman, ‘Wahai orang-orang yang beriman! Makanlah dari rezeki yang baik yang Kami berikan kepadamu.’ (QS. Al-Baqarah: 172). Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan seseorang yang lama bepergian; rambutnya kusut, berdebu, dan menengadahkan kedua tangannya ke langit, lantas berkata, ‘Wahai Rabbku, wahai Rabbku.’ Padahal makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram, dan ia dikenyangkan dari yang haram, bagaimana mungkin doanya bisa terkabul.” (HR. Muslim) [HR. Muslim, no. 1015]

Sedikit Penjelasan tentang Hadits tersebut

1. إِنَّ اللهَ طَيِّبٌ
Sesungguhnya Allah Ta’ala itu baik (thayyib)
Maksudnya : Allah menyukai yang baik2, baik yang dzohir (jelas) atau batin. Ada juga yang mengatakan bahwa arti dari penggalan hadits tersebut maksudnya bahwa Allah menyukai keindahan baik yang dzohir (jelas) atau batin. Jumhur Ulama' mengatakan bahwa طَيِّبٌ maksudnya adalah segala sesuatu yang halal.

2. لاَ يَقْبَلُ إِلاَّ طَيِّباً
tidak menerima kecuali yang baik (thayyib).
Maksudnya : Allah hanya menerima amal hambanya yg mengerjakan sesuatu yang halal dengan cara yang halal dan memperoleh sesuatu juga dengan jalan yang halal. Begitupun dengan doa. Apabila ada sesuatu yang haram dalam diri seorang hamba, dan hamba tersebut berdoa, maka Allah tidak mengabulkan doa hamba tersebut sampai dia bertaubat, membersihkan dirinya dari perkara yang haram.

Beberapa ciri sesuatu itu adalah haram

A. Zatnya
Sesuatu yang sudah jelas diharamkan dalam nash.
Allah SWT berfirman:

حُرِّمَتْ عَلَيْكُمُ الْمَيْتَةُ وَالدَّمُ وَلَحْمُ الْخِنْزِيْرِ وَمَاۤ اُهِلَّ لِغَيْرِ اللّٰهِ بِهٖ وَالْمُنْخَنِقَةُ وَالْمَوْقُوْذَةُ وَالْمُتَرَدِّيَةُ وَالنَّطِيْحَةُ وَمَاۤ اَكَلَ السَّبُعُ اِلَّا مَا ذَكَّيْتُمْ ۗ  وَمَا ذُ بِحَ عَلَى النُّصُبِ وَاَنْ تَسْتَقْسِمُوْا بِالْاَزْلَامِ  ۗ  ذٰ لِكُمْ فِسْقٌ  ۗ  ............

"Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, dan (daging) hewan yang disembelih bukan atas (nama) Allah, yang tercekik, yang dipukul, yang jatuh, yang ditanduk, dan yang diterkam binatang buas, kecuali yang sempat kamu sembelih. Dan (diharamkan pula) yang disembelih untuk berhala. Dan (diharamkan pula) mengundi nasib dengan azlam (anak panah) (karena) itu suatu perbuatan fasik. ..........
(QS. Al-Ma'idah 5: Ayat 3)

Begitu pula sesuatu yang sudah ditetapkan dalam hasil ijtima' ulama.

B. Cara mendapatkannya
Meskipun zatnya halal, tetapi jika cara mendapatkannya melalui jalan yg haram, maka sesuatu itu bisa menjadi haram.
Contoh :
Ayam goreng itu halal. Tetapi jika kita mendapatkan makanan itu dengan mencuri, maka makanan itu bisa menjadi haram

Adapun dengan barang temuan (rikaz). Barang temuan bisa dihukumi halal apabila sudah memenuhi 3 syarat :
1. Sudah diumumkan
2. Sudah diumumkan dan sudah mencapai haul (disimpan 1 tahun) tetapi masih belum ada yg mengakui kepemilikan barang tersebut
3. Dibayarkan zakatnya. Zakat rikaz adalah 20 %.

C. Profesi
Suatu profesi bisa menjadi sebab sesuatu yang diperoleh menjadi haram.

3. الرَّجُلَ يُطِيْلُ السَّفَرَ أَشْعَثَ أَغْبَرَ يَمُدُّ يَدَيْهِ إِلَى السَّمَاءِ: يَا رَبِّ يَا رَبِّ، وَمَطْعَمُهُ حَرَامٌوَمَلْبَسُهُ حَرَامٌ وَغُذِيَ بِالحَرَامِ فَأَنَّى يُسْتَجَابُ لَه
Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan seseorang yang lama bepergian; rambutnya kusut, berdebu, dan menengadahkan kedua tangannya ke langit, lantas berkata, ‘Wahai Rabbku, wahai Rabbku.’ Padahal makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram, dan ia dikenyangkan dari yang haram, bagaimana mungkin doanya bisa terkabul.”
Maksudnya : Seperti penjabaran no. 2 diatas, bahwa Allah tidak mengabul doa orang yang ada sesuatu yang haram dalam dirinya. Sampai dia membersihkan diri dari sesuatu yang haram itu dan bertaubat. Dalam hadits ini, sudah diberikan contohnya.

Allah mencintai sesuatu yang baik, indah, dan tertib. Untuk itu, sebagai hambaNya harusnya kita juga menjadi orang yang baik dan mencintai kebaikan, orang yang indah serta menjaga keindahan dan mencintainya, orang yang tertib dan menjaga ketertiban. Jika dalam diri kita ada sesuatu yang haram, maka bersihkanlah, bertaubatlah dengan taubat yang sungguh2. Karena Allah Maha Pemaaf, Maha Penerima Taubat, Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

Kekurangannya mohon dimaafkan 🙏

Rangkuman Hadits Arba'in ke 11 oleh Ust. Istanto, S.Si

Tidak ada komentar:
MASJID AGUNG IBNU BATUTAH
Rangkuman Ceramah Tarawih
11 Ramadan 1440 H
Oleh : Ust. Istanto, S.Si
Tema : Tinggalkan yang Meragukan (Hadits Arbain No. 11)

عن أَبِي مُحَمَّدٍ الحَسَنِ بْنِ عَلِيٍّ بْنِ أَبِي طَالِبٍ سِبْطِ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَرَيْحَانَتِهِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ: حَفِظْتُ مِنْ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ دَعْ مَا يَرِيْبُكَ إِلَى مَا لاَ يَرِيْبُكَ.

(رَوَاهُ التِّرْمِذِيُّ وَالنَّسَائِيُّ، وَقاَلَ التِّرْمِذِيُّ: حَدِيْثٌ حَسَنٌ صَحِيْحٌ.)

Dari Abu Muhammad Al-Hasan bin ‘Ali bin Abi Thalib, cucu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan kesayangannya radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, “Aku hafal (sebuah hadits) dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, ‘Tinggalkanlah yang meragukanmu lalu ambillah yang tidak meragukanmu.’”(HR. Tirmidzi, An-Nasa’i. Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan shahih) [HR. Tirmidzi, no. 2518; An-Nasa’i, no. 5714. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih]

Sedikit Penjabaran tentang Hadits tersebut

1.  دَعْ مَا يَرِيْبُكَ إِلَى مَا لاَ يَرِيْبُكَ.
Tinggalkanlah yang meragukanmu lalu ambillah yang tidak meragukanmu

Maksudnya : tinggalkanlah (jangan ikuti) yang meragukanmu (yang hukum nya masih belum jelas -syubhat-) lalu ambillah (ikuti) yang tidak meragukanmu (yang hukumnya sudah jelas)

Dari hadits itu kita bisa petik beberapa pelajaran, antara lain

1. Benar2 meninggalkan perkara syubhat
Karena yang syubhat itu akan cenderung membuat kita nampak berpura2. Semisal, ada suatu perkara yang masih belum jelas, lalu kita tetap melakukannya, padahal sudah jelas perintah untuk meninggalkan yang meragukan. Maka, tindakan itu termasuk tindakan yang berpura2 tidak mengetahui suatu hukum.

2. Kesempurnaan Fatwa adalah dengan meninggalkan yang meragukan

3. Jika keraguan berlawanan dengan keyakinan, berlaku kaidah terapkan apa yang diyakini dan tinggalkan apa yg diragukan

4. Berhenti ketika mengetahui syubhat

5. Kejujuran mendatangkan ketenangan, dusta mendatangkan bimbang

6. Membangun hukum atau urusan dalam kehidupan harus didasari dengan keyakinan

Dalam kehidupan, segala perkara harus didasari dengan keyakinan. Karena keyakinan itu menandakan kejujuran.

Kekurangannya mohon dimaafkan 🙏

Rangkuman Hadits Arba'in ke 9 Oleh Ust. H.Ahmad Shoim, S.Ag

Tidak ada komentar:
MASJID AGUNG IBNU BATUTAH
Rangkuman Ceramah Tarawih
9 Ramadan 1440 H
Oleh : Ust. H. Ahmad Shoim,S.Ag

Kita menyadari bahwa manusia memiliki banyak keterbatasan dan kekurangan, disisi lain ada banyak sekali hal yang ingin kita dapatkan dalam hidup ini. Sering kali kita merasa bahwa kita telah memberikan usaha terbaik kita, namun belum membuahkan hasil yang kita inginkan. Disanalah kita membutuhkan pertolongan, membutuhkan tempat untuk mengadu, dan menenangkan diri.

Saat kita dalam titik tersebut, kita tahu kemana kita harus mengadu (mengadu lewat do’a.) Ketika berdoa kita menyadari terdapat kekuatan lain diluar kuasa kita yang mampu menolong dan membantu segala permasalahan kita.

Islam mengajarkan pada kita, segala hal yang akan kita lakukan dan yang akan kita akhiri harus selalu diiringi dengan doa. Sejak bangun tidur sampai tidur lagi, berdoa menjadi hal pertama dan terakhir yang kita lakukan. Doa menjadi bukti kelemahan manusia dan kebesaran Allah. Segala yang ada di Alam semesta ini adalah milik Allah. Sehingga, jika kita ingin meminta sebagian kecil dari keindahan alam semesta, kita haruslah meminta kepada pemilikNya. Allah tempat untuk meminta, meminta hal sekecil2nya sampai meminta hal sepenting2nya. Allah bahkan menyebut makhlukNya yang tidak mau memohon padaNya dengan sebutan makhluk yang sombong.

Dalam berdoa, tentunya kita ingin agar doa kita bisa terkabul. Allah Maha Mendengar lagi Maha Pengabul doa. Tetapi ada saat dan sebab dimana ketika dipanjatkan doa pada waktu dan sebab tertentu, maka doa itu mustajab. Salah satu sebab doa menjadi mustajab, ialah apabila seseorang berdoa dan orang tersebut didoakan oleh Malaikat. Didoakan malaikat adalah salah satu sebab doa seseorang mustajab.

Berikut kami paparkan sebab dan waktu ketika malaikat mendoakan manusia berdasar dari ceramah teraweh oleh Ust. H. Ahmad Shoim, S.Ag

1. Doa malaikat bagi orang-orang yang menunggu datangnya waktu shalat dan orang yang duduk di masjid setelah shalat dan suci dari hadas.

Rasulullah SAW bersabda:

إِنَّ أَحَدَكُمْ مَا قَعَدَ يَنْتَظِرُ الصَّلاةَ فَهُوَ فِي صَلاةٍ مَا لَمْ يُحْدِثْ ، تَدْعُو الْمَلائِكَةُ : اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ ، اللَّهُمَّ ارْحَمْهُ

“Seorang hamba masih dihitung dalam shalat selama ia berada di tempat shalatnya untuk menunggu shalat dan malaikat akan mendoakannya; Ya Allah, ampunilah dia, Ya Allah, rahmatilah dia, hingga ia beranjak atau berhadas.” (HR Muslim)

2. Doa malaikat kepada orang yang menempati shaf pertama dalam shalat

Rasulullah bersabda,
 “Apakah kamu tidak mau membuat shaf layaknya shaf para malaikat di hadapan RabbNya? Lalu kami (shahabat) bertanya, ‘Wahai Rasulullah, bagaimana Malaikat bershaf di hadapan Rabbnya?’ Kemudian Rasulullah menjawab, “Mereka menyempurnakan shaf depan dan merapatkan shaf.” (HR Muslim, 1/322, hadits nomor 430)

3. Doa malaikat kepada orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah.

Rasulullah SAW bersabda,
“Tidaklah para hamba memasuki waktu pagi hari, melainkan dua malaikat akan turun. Salah satu malaikat tadi berkata, ‘Ya Allah berikanlah rezeki kepada orang yang berinfaq.’ Dan satunya lagi berkata, 'Ya Allah berikanlah kenistaan bagi orang yang pelit’.” (HR Al-Bukhari, 3/304, hadits nomor 1442)

4. Doa malaikat kepada orang yang ketika keluar rumah membaca Bismillahi tawakkaltu Alallah

Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا خَرَجَ الرَّجُلُ مِنْ بَيْتِهِ فَقَالَ: “بِسْمِ اللَّهِ تَوَكَّلْتُ عَلَى اللَّهِ، لاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللَّهِ” قَالَ: « يُقَالُ حِينَئِذٍ: هُدِيتَ وَكُفِيتَ وَوُقِيتَ. فَتَتَنَحَّى لَهُ الشَّيَاطِينُ، فَيَقُولُ لَهُ شَيْطَانٌ آخَرُ: كَيْفَ لَكَ بِرَجُلٍ قَدْ هُدِىَ وَكُفِىَ وَوُقِىَ

“Jika seseorang keluar dari rumahnya lalu membaca (zikir): Bismillahi tawakkaltu ‘alallahi, walaa haula wala quwwata illa billah (Dengan nama Allah, aku berserah diri kepada-Nya, dan tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan-Nya), maka malaikat akan berkata kepadanya: “(sungguh) kamu telah diberi petunjuk (oleh Allah Ta’ala), dicukupkan (dalam segala keperluanmu) dan dijaga (dari semua keburukan)”, sehingga setan-setanpun tidak bisa mendekatinya, dan setan yang lain berkata kepada temannya: Bagaimana (mungkin) kamu bisa (mencelakakan) seorang yang telah diberi petunjuk, dicukupkan dan dijaga (oleh Allah Ta’ala)

5. Doa malaikat kepada Orang yang shalat berjamaah di Masjid

Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

صَلاَةُ الرَّجُلِ فِى الْجَمَاعَةِ تُضَعَّفُ عَلَى صَلاَتِهِ فِى بَيْتِهِ وَفِى سُوقِهِ خَمْسًا وَعِشْرِينَ ضِعْفًا ، وَذَلِكَ أَنَّهُ إِذَا تَوَضَّأَ فَأَحْسَنَ الْوُضُوءَ ، ثُمَّ خَرَجَ إِلَى الْمَسْجِدِ لاَ يُخْرِجُهُ إِلاَّ الصَّلاَةُ ، لَمْ يَخْطُ خَطْوَةً إِلاَّ رُفِعَتْ لَهُ بِهَا دَرَجَةٌ ، وَحُطَّ عَنْهُ بِهَا خَطِيئَةٌ ، فَإِذَا صَلَّى لَمْ تَزَلِ الْمَلاَئِكَةُ تُصَلِّى عَلَيْهِ مَا دَامَ فِى مُصَلاَّهُ (مَا لَمْ يُحْدِثْ)  تَقُوْلُ : اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَيْهِ ، اللَّهُمَّ ارْحَمْهُ . وَلاَ يَزَالُ أَحَدُكُمْ فِى صَلاَةٍ مَا انْتَظَرَ الصَّلاَةَ

“Shalat seseorang dengan berjama’ah dilipatgandakan daripada shalatnya di rumah dan di pasarnya dua puluh lima kali lipat. Dan hal itu apabila ia berwudhu lalu memperbagus wudhunya kemudian keluar ke masjid dengan tujuan hanya untuk shalat. Tiap ia melangkah satu langkah maka diangkatkan baginya satu derajat dan dihapuskan satu dosanya. Lalu apabila ia shalat, para malaikat akan terus mendo’akannya selama ia berada di tempat shalatnya, selama ia tidak berhadats. Malaikat akan mendoakan, “Ya Allah, sejahterakanlah ia. Ya Allah, rahmatilah dia.” Dan ia dianggap terus menerus shalat selama ia menunggu shalat.” (HR. Bukhari, no. 647 dan Muslim, no. 649).

6. Doa Malaikat kepada orang yang mendoakan orang lain secara diam2, sehingga orang yang didoakan tidak tau jika dirinya didoakan

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda:

دَعْوَةُ الْمَرْءِ الْمُسْلِمِ لأَخِيْهِ بِظَهْرِ الْغَيْبِ مُسْتَجَابَةٌ عِنْدَ رَأْسِهِ مَلَكٌ مُوَكَّلٌ. كُلَّمَا دَعَا ِلأَخِيْهِ بِخَيْرٍ، قَالَ الْمَلَكُ الْمُوَكَّلُ بِهِ: آمِيْنَ. وَلَكَ بِمِثْلٍ.

‘Do’a seorang muslim untuk saudaranya yang dilakukan tanpa sepengetahuan orang yang dido’akannya adalah do’a yang akan dikabulkan. Pada kepalanya ada Malaikat yang menjadi wakil baginya. Setiap kali dia berdo’a untuk saudaranya dengan sebuah kebaikan, maka Malaikat tersebut berkata: ‘Aamiin dan engkau pun mendapatkan apa yang ia dapatkan.’”

Berdoalah, karena Allah akan mengabulkan. Berusahalah, karena Allah melihat dan akan membalas sekecil apapun perbuatan kita. Jadikan doa sebagai kebiasaan kita dalam setiap aktivitas, teruslah yakin bahwa selalu ada pertolongan Allah bagi hambaNya yang memohon dengan penuh keikhlasan dan ketundukan jiwa.

Kesalahannya mohon dimaafkan 🙏
Perangkum : Sania
Masjid Agung Ibnu Batutah

Rangkuman Hadits Arba'in ke 8 oleh Ust. Subhan Faqih

Tidak ada komentar:
MASJID AGUNG IBNU BATUTAH
Rangkuman Ceramah Tarawih
8 Ramadan 1440 H
Oleh : Ust. Subhan Faqih
Tema : Kehormatan Seorang Muslim

فَاِنَّ دِمَاءَكُمْ وَأَمْوَالَكُمْ وَأَعْرَاضَكُمْ بَيْنَكُمْ حَرَامٌ عَلَيْكُمْ كَحُرْمَةِ يَوْمِكُمْ هَذَا، فِيْ شَهْرِكُمْ هَذَا، فِيْ بَلَدِكُمْ هَذَا

“Sesungguhnya darah kalian, harta benda kalian, kehormatan kalian, haram atas kalian seperti terlarangnya di hari ini, bulan ini dan negeri ini.” (HR. Bukhari, no. 67, 105, 1741 dan Muslim, no. 30, dari sahabat Abu Bakrah radhiyallahu ‘anhu)

Penjabaran tentang Hadits tersebut

1. فَاِنَّ دِمَاءَكُمْ
Sesungguhnya darah kalian
Maksudnya : darah kaum muslimin diharamkan (tidak boleh dibunuh tanpa ada alasan yang jelas)

2. وَأَمْوَالَكُمْ
harta benda kalian
Maksudnya : harta benda diharamkan untuk sesama muslim itu maksudnya tidak boleh digunakan tanpa izin pemilik.

3. وَأَعْرَاضَكُمْ
kehormatan kalian
Maksudnya : sesama muslim kita diharamkan untuk menjatuhkan kehormatan yang lain. Kita harus menjaga kehormatan kita dan menjaga kehormatan orang lain. Allah menciptakan kita dengan sebaik2 bentuk. Rasul memperlakukan kita dengan sebaik2nya perlakuan. Mendoakan kita, memberi contoh kepada kita, mewasiatkan kita dengan wasiat2 yang jika kita berpegang teguh padanya, kita tidak akan tersesat. Itulah sebabnya, sesama manusia seharusnya kita menjaga kehormatan satu sama lain.

عن أبي هريرة رضي الله عنه قَالَ: سُئِلَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه و سلم عَنْ أَكْثَرِ مَا يُدْخِلُ النَّاسَ اْلجَنَّةَ؟ قَالَ: تَقْوَى اللهِ وَ حُسْنُ اْلخُلُقِ وَ سُئِلَ عَنْ أَكْثَرِ مَا يُدْخِلُ النَّاسَ النَّارَ؟ قَالَ: اْلفَمُ وَ اْلفَرَجُ

Dari Abu Hurairah radliyallahu anhu berkata, Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam pernah ditanya tentang sesuatu apakah yang terbanyak yang dapat memasukkan manusia ke dalam surga?. Beliau menjawab, “Takwa kepada Allah dan akhlak yang baik”. Beliau juga ditanya tentang sesuatu apakan yang terbanyak yang dapat memasukkan manusia ke dalam neraka?. Beliau menjawab, “Mulut dan farji (kemaluan)”. [HR at-Turmudziy: 2004, Ibnu Majah: 4246 dan Ahmad: II/ 291, 392, 442. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Hasan sanadnya, lihat Shahiih Sunan at-Turmudziy: 1630, Shahih Sunan Ibni Majah: 3424, Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: 977 dan Misykah al-Mashobih: 4832. Di dalam satu riwayat; Beliau menjawab, “Dua lobang yaitu mulut dan farji”].

Pada hadits tersebut dijelaskan bahwa Mulut dan kemaluan menjadi sesuatu terbanyak yang menyebabkan manusia masuk neraka. Kedua hal tersebut menjadi simbol kehormatan manusia. Siapapun yang bisa menjaga mulutnya (ucapannya) dan menjaga kemaluannya (alat kelamin) dari hal2 yang telah ditetapkan larangannya maka dia telah menjaga kehormatannya sendiri dan juga menjaga kehormatan orang lain. Tetapi, siapa saja yang tidak bisa menjaga kedua hal tersebut, maka dia sudah tidak menjaga kehormatan dirinya sendiri, bahkan kehormatan orang lain.

4. حَرَامٌ عَلَيْكُمْ كَحُرْمَةِ يَوْمِكُمْ هَذَا
haram atas kalian seperti terlarangnya di hari ini
Maksudnya : Rasulullah menyampaikan hadits ini dalam khotbahnya saat melaksanakan haji wada'. Hari yang dimaksud adalah يوم النحر (Hari Qurban / Idul Adha). Keharaman darah, harta, dan kehormatan seorang muslim sama seperti haramnya/mulianya hari Qurban.

5. ، فِيْ شَهْرِكُمْ هَذَا،
bulan ini
Maksudnya : bulan yang dimaksud adalah bulan Dzulhijjah. Keharaman darah, harta, dan kehormatan seorang muslim sama seperti haramnya/mulianya Bulan Dzulhijah.

6. فِيْ بَلَدِكُمْ هَذَا
negeri ini
Maksudnya : negeri yang dimaksud adalah Arab (Terkhusus pada Makkah dan Madinah). Keharaman darah, harta, dan kehormatan seorang muslim sama seperti haramnya/mulianya Negeri Arab.

Intinya, sesama manusia secara umum dan sesama muslim secara khusus, kita harus sama2 menjaga kehormatan satu sama lain. Jika kita ingin dihormati, maka hormatilah oranglain.

Kekurangannya mohon dimaafkan 🙏

Rangkuman Hadits Arba'in ke 7 oleh K.H.Taufiqurrahman

Tidak ada komentar:
MASJID AGUNG IBNU BATUTAH
Rangkuman Ceramah Tarawih
7 Ramadan 1440 H
Oleh : KH. Taufiqurrahman
Tema : Agama adalah Nasihat (Hadits Arba'in no.7)

عن أَبِي رُقَيَّةَ تَمِيْمٍ بْنِ أَوْسٍ الدَّارِي رَضِيَ اللهُ تَعَالَى عَنْهُ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ قَالَ الدِّيْنُ النَّصِيْحَةُ قُلْنَا : لِمَنْ ؟ قَالَ للهِ وَلِكِتَابِهِ وَلِرَسُوْلِهِ وَلِأَئِمَّةِ المُسْلِمِيْنَ وَعَامَّتِهِمْ – رَوَاهُ مُسْلِمٌ

Dari Abu Ruqayyah Tamim bin Aus Ad-Daari radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Agama adalah nasihat.” Kami bertanya, “Untuk siapa?” Beliau menjawab, “Bagi Allah, bagi kitab-Nya, bagi rasul-Nya, bagi pemimpin-pemimpin kaum muslimin, serta bagi umat Islam umumnya.” (HR. Muslim) [HR. Muslim, no. 55]

Sedikit Penjabaran tentang Hadits tersebut

1. الدِّيْنُ النَّصِيْحَةُ
Agama adalah nasihat
Maksudnya : Agama yang dimaksud adalah agama islam. Karena hanya agama islam lah yang diterima disisi Allah.
Allah SWT berfirman:

اِنَّ الدِّيْنَ عِنْدَ اللّٰهِ الْاِسْلَامُ ۗ  وَمَا اخْتَلَفَ الَّذِيْنَ اُوْتُوا الْكِتٰبَ اِلَّا مِنْۢ بَعْدِ مَا جَآءَهُمُ الْعِلْمُ بَغْيًا ۢ بَيْنَهُمْ ۗ  وَمَنْ يَّكْفُرْ بِاٰيٰتِ اللّٰهِ فَاِنَّ اللّٰهَ سَرِيْعُ الْحِسَابِ

Sesungguhnya agama di sisi Allah ialah Islam. Tidaklah berselisih orang-orang yang telah diberi Kitab kecuali setelah mereka memperoleh ilmu, karena kedengkian di antara mereka. Barang siapa ingkar terhadap ayat-ayat Allah, maka sungguh, Allah sangat cepat perhitungan-Nya.
(QS. Ali 'Imran : Ayat 19)

Lalu nasihat yang dimaksud adalah segala aturan dalam beragama.

2. للهِ
Bagi Allah
Maksudnya : dalam hadits ini, ketika para sahabat bertanya bagi siapa nasihat itu? Rasul menjawab "bagi Allah". "bagi Allah" disini bukan berarti Allah diberi nasihat. Makna للهِ ialah dalam konsep keimanan. Dimana nasihat yang dimaksud adalah aturan. Maka, aturan bagi Allah yang dimaksud hadits ini adalah aturan dalam konsep keimanan, yaitu meniadakan kesyirikan. Dan aturan ini diperuntukkan kepada makhluk Allah agar menaatinya.

3. وَلِكِتَابِهِ
bagi KitabNya
Maksudnya : Kitab yang dimaksud adalah kitab Al Qur'an. Dimana kitab Al Qur'an memiliki aturan2 khusus dari memegang sampai memahami kandungan Al Qur'an. Dalam memegang Al Qur'an, kita harus suci dari hadats kecil dan besar. Memegang dengan tangan kanan atau kedua tangan dan didekapkan di dada. Tidak boleh sembarangan dalam memegang Al Qur'an. Al Qur'an adalah Agung, sehingga kita pun harus memperlakukan Al Qur'an dengan cara yang sesuai, baik, dan benar. Jika, kita masih ada kekeliruan dalam "memperlakukan" Al Qur'an, marilah mulai sekarang kita bersama2 memperbaiki adab kita terhadap Al Qur'an.

Dari segi membaca, Al Qur'an pun memiliki aturan khusus. Bahkan untuk membaca Al Qur'an ada ilmu khusus yang digunakan untuk mempelajari cara membacanya. Ilmu Tajwid namanya. Didalam ilmu tajwid itu terdapat cabang ilmu inti dalam membaca Al Qur'an: Shifatul Huruf, Makhorijul huruf, ahkamul huruf, mad wal qosr

Dalam menulis ayat2 Al Qur'an pun tidak boleh sembarangan. Bahkan penulisan Al Qur'an sendiri sudah dipakemkan dan tidak boleh ada yang merubahnya, dan memang tidak akan ada satu makhluk pun yang akan bisa merubahnya. Bahkan menyerupai saja tidak bisa.

Allah SWT berfirman:

وَاِنْ کُنْتُمْ فِيْ رَيْبٍ  مِّمَّا نَزَّلْنَا عَلٰى عَبْدِنَا فَأْتُوْا بِسُوْرَةٍ مِّنْ مِّثْلِهٖ  ۖ  وَادْعُوْا  شُهَدَآءَكُمْ مِّنْ دُوْنِ اللّٰهِ اِنْ كُنْتُمْ صٰدِقِيْنَ

Dan jika kamu meragukan (Al-Qur'an) yang Kami turunkan kepada hamba Kami (Muhammad), maka buatlah satu surah semisal dengannya dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah jika kamu orang-orang yang benar.
(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 23)

فَاِنْ لَّمْ تَفْعَلُوْا وَلَنْ تَفْعَلُوْا فَاتَّقُوْا النَّارَ الَّتِيْ وَقُوْدُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ  ۖ  اُعِدَّتْ لِلْكٰفِرِيْنَ

Jika kamu tidak mampu membuatnya, dan (pasti) tidak akan mampu, maka takutlah kamu akan api neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu yang disediakan bagi orang-orang kafir.
(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 24)

4. وَلِرَسُوْلِهِ
bagi RasulNya
Maksudnya : untuk bersaksi, mempercayai, meyakini segala apapun yang dibawa oleh Rasul, baik itu kabar gembira maupun peringatan. Tidak hanya mempercayai dam meyakini, tetapi juga mentaati terhadap perintah2 Rasul dan menjauhi larangannya.

5. وَلِأَئِمَّةِ المُسْلِمِيْنَ وَعَامَّتِهِمْ
bagi pemimpin-pemimpin kaum muslimin, serta bagi umat Islam umumnya.
Maksudnya: aturan untuk pemimpin2 kaum muslimin serta umat islam umumnya ialah segala aturan yang harus ditaati serta larangan yang harus dihindari dalam beragama serta bersosial dengan makhluk hidup lainnya.

Kekurangannya mohon dimaafkan 🙏

Rangkuman Hadits Arba'in ke 6 Oleh Ust. Anas Anhar, S.Ag, MA

Tidak ada komentar:
Rangkuman Ceramah Tarawih
6 Ramadan 1440 H
Oleh : Ust. Anas Anhar, S.Ag., MA
Tema : yang Halal dan yang Haram (Hadits Arba'in no.6)

عن ابي عَبْدِ اللهِ النُّعْمَان بْنِ بَشِيْرٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ : سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ : إِنَّ الحَلاَلَ بَيِّنٌ وَإِنَّ الَحرَامَ بَيِّنٌ وَبَيْنَهُمَا أُمُوْرٌ مُشْتَبِهَاتٌ لاَ يَعْلَمُهُنَّ كَثِيْرٌ مِنَ النَّاسِ فَمَنِ اتَّقَى الشُّبُهَاتِ فَقَدِ اسْتَبْرَأَ لِدِيْنِهِ وَعِرْضِهِ وَمَنْ وَقَعَ فِي الشُّبُهَاتِ وَقَعَ فِي الحَرَامِ كَالرَّاعِي يَرْعَى حَوْلَ الحِمَى يُوْشِكُ أَنْ يَرْتَعَ فِيْهِ أَلاَّ وِإِنَّ لِكُلِّ مَلِكٍ حِمًى أَلاَ وَإِنَّ حِمَى اللهِ مَحَارِمُهُ أَلَا وَإِنَّ فِي الجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلُحَتْ صَلُحَ الجَسَدُ كُلُّهُ وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الجَسَدُ كُلُّهُ أَلَا وَهِيَ القَلْبُ – رَوَاهُ البُخَارِي وَمُسْلِمٌ

Dari Abu ‘Abdillah An-Nu’man bin Basyir radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata bahwa ia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Sesungguhnya yang halal itu jelas, sebagaimana yang haram pun jelas. Di antara keduanya terdapat perkara syubhat–yang masih samar–yang tidak diketahui oleh kebanyakan orang. Barangsiapa yang menghindarkan diri dari perkara syubhat, maka ia telah menyelamatkan agama dan kehormatannya. Barangsiapa yang terjerumus ke dalam perkara syubhat, maka ia bisa terjatuh pada perkara haram. Sebagaimana ada penggembala yang menggembalakan ternaknya di sekitar tanah larangan yang hampir menjerumuskannya. Ketahuilah, setiap raja memiliki tanah larangan dan tanah larangan Allah di bumi ini adalah perkara-perkara yang diharamkan-Nya. Ingatlah di dalam jasad itu ada segumpal daging. Jika ia baik, maka seluruh jasad akan ikut baik. Jika ia rusak, maka seluruh jasad akan ikut rusak. Ingatlah segumpal daging itu adalah hati (jantung).” (HR. Bukhari dan Muslim) [HR. Bukhari no. 2051 dan Muslim no. 1599]

Sedikit Penjabaran tentang hadits tersebut

1.  إِنَّ الحَلاَلَ بَيِّنٌ وَإِنَّ الَحرَامَ بَيِّنٌ
Sesungguhnya yang halal itu jelas, sebagaimana yang haram pun jelas
Maksudnya : sudah jelas ternukil dalam nash. Bahwa perkara ini halal, perkara ini haram

2. وَبَيْنَهُمَا أُمُوْرٌ مُشْتَبِهَاتٌ لاَ يَعْلَمُهُنَّ كَثِيْرٌ مِنَ النَّاس
Di antara keduanya terdapat perkara syubhat–yang masih samar–yang tidak diketahui oleh kebanyakan orang.
Maksudnya : Sesuatu yang hukum halal dan haramnya masih belum jelas dan perlu dilakukan ijtihad oleh para ulama' untuk menentukan hukum tersebut. Dan ijtihad ini tidak bisa semua orang melakukannya, hanya para ulama' dengan ilmu yang mumpuni yang bisa melakukan dan memutuskannya, lalu kita cukup mengikuti saja.

3. فَمَنِ اتَّقَى الشُّبُهَاتِ فَقَدِ اسْتَبْرَأَ لِدِيْنِهِ وَعِرْضِهِ
Barangsiapa yang menghindarkan diri dari perkara syubhat, maka ia telah menyelamatkan agama dan kehormatannya.
Maksudnya : berhati2 terhadap perkara yang masih belum jelas haram halalnya

4. وَمَنْ وَقَعَ فِي الشُّبُهَاتِ وَقَعَ فِي الحَرَامِ
Barangsiapa yang terjerumus ke dalam perkara syubhat, maka ia bisa terjatuh pada perkara haram
Maksudnya : siapa saja yang melakukan perkara yang masih samar2 kejelasan hukumnya (syubhat) tanpa mencari tahu kebenaran hukumnya dari para ulama' sedang dia ilmunya masih belum memenuhi syarat untuk bisa berijtihad dalam menentukan hukum, jadi dia melakukannya berdasarkan kemauan sendiri, maka perkara syubhat yang dia laksanakan bisa terjatuh pada perkara yang haram.

5. كَالرَّاعِي يَرْعَى حَوْلَ الحِمَى يُوْشِكُ أَنْ يَرْتَعَ فِيْه
Sebagaimana ada penggembala yang menggembalakan ternaknya di sekitar tanah larangan yang hampir menjerumuskannya.
Maksudnya : manusia yang melakukan perkara syubhat tanpa mencari tahu kebenarannya terlebih dahulu, diibaratkan seperti seorang pengembala yang mengembala di tanah larangan. Pengembala tersebut masih ragu tentang tanah larangan tersebut, dimana tanah yang tidak boleh dia injak dan dimana tanah yang boleh dia injak serta apa yang akan terjadi jika dia menginjak tanah tersebut. Sehingga atas ketidaktahuannya dan tidak ada usaha dalam mencari kebenaran terhadap orang yang lebih tahu tentang hal tersebut, pengembala itu bisa saja salah melangkah dan akhirnya malah terjerumus pada tanah larangan itu.

6.  أَلاَّ وِإِنَّ لِكُلِّ مَلِكٍ حِمًى أَلاَ وَإِنَّ حِمَى اللهِ مَحَارِمُه
Ketahuilah, setiap raja memiliki tanah larangan dan tanah larangan Allah di bumi ini adalah perkara-perkara yang diharamkan-Nya.
Maksudnya : Setiap raja memiliki kekuasaan untuk melarang kaumnya menginjak tanah miliknya yang disebut tanah larangan. Allah raja dari segala raja memiliki tanah larangan di bumi ini yang hambanya tidak boleh menginjaknya, karena siapapun yang menginjaknya akan terjerumus didalamnya. Dan tanah larangan Allah itu adalah segala hal yang sudah Allah tetapkan keharamannya.

7. أَلَا وَإِنَّ فِي الجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلُحَتْ صَلُحَ الجَسَدُ كُلُّهُ وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الجَسَدُ كُلُّهُ أَلَا وَهِيَ القَلْب
Ingatlah di dalam jasad itu ada segumpal daging. Jika ia baik, maka seluruh jasad akan ikut baik. Jika ia rusak, maka seluruh jasad akan ikut rusak. Ingatlah segumpal daging itu adalah hati (jantung).
Maksudnya : Setiap manusia sudah Allah ciptakan hati sebagai "ruh" nya manusia. Jika hati tersebut kita jaga dalam kebaikan, maka dalam hidup kita, insyaallah hal2 baiklah yang akan cenderung kita lakukan. Sedangkan, jika hati kita rusak, maka kerusakan pulalah yang akan cenderung kita lakukan. Itu sebabnya, Allah menciptakan akal sebagai pelengkap hati dalam melaksanakan fungsinya. Dengan akal, kita bisa tahu mana yang salah dan benar, serta mana yang harus dilakukan serta yang harus ditinggalkan. Jika kita bisa memfungsikan kedua hal tersebut (hati dan akal) dengan baik dan benar, maka insyaallah jalan yang lurus serta hidayah akan menyertai kita. Aamiin yaa Robbal Alamiin

Kekurangannya mohon dimaafkan 🙏

Rangkuman Hadits Arba'in ke 5 Oleh Ustad Misna'im Hariadi

Tidak ada komentar:
Rangkuman Ceramah Tarawih
5 Ramadan 1440 H
Oleh : Ust. Misna'im Hariyadi
Tema : Mengingkari Kemungkaran dan Bid'ah (Hadits Arba'in no.5)

 عَنْ أُمِّ المُؤْمِنِيْنَ أُمِّ عَبْدِ اللهِ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ فِيهِ فَهُوَ رَدٌّ رواه البخاري ومسلم وفي رواية لمسلم [ مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْه ِأَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ ]

Dari Ibunda kaum mukminin, Ummu Abdillah Aisyah RA beliau berkata: Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam bersabda : Barangsiapa yang mengada-adakan sesuatu hal yang baru dalam perkara kami ini yang tidak ada (perintahnya dari kami) maka tertolak (H.R alBukhari dan Muslim). Dalam riwayat Muslim: Barangsiapa yang beramal dengan suatu amalan yang tidak ada perintah kami, maka tertolak.

Penjabaran tentang Hadits tersebut

1. مَنْ أَحْدَثَ
Barangsiapa yang mengada-adakan sesuatu hal yang baru
Maksudnya : Siapapun yang mengadakan sesuatu atau berbuat sesuatu yang baru diluar syariat karena kemauannya sendiri.

2. فِي أَمْرِنَا
dalam perkara kami ini
Maksudnya : dalam syariat islam yang bersumber Al Qur'an dan Sunnah

3. مَا لَيْسَ فِيهِ
yang tidak ada (perintahnya dari kami)
Maksudnya: yang tidak sesuai dengan syariat

4. فَهُوَ رَدٌّ
maka tertolak
Maksudnya : tidak diperbolehkan.

Secara garis besar, hadits ini berbicara tentang bid'ah. Bid'ah adalah perbuatan yang dikerjakan tidak menurut contoh yang sudah ditetapkan (dalam hal ini, contoh yang dimaksud adalah sumber ajaran islam yaitu Al Qur'an dan Hadits) , termasuk menambah atau mengurangi ketetapan (ketetapan yang dimaksud disini adalah syari'at islam)

Didalam kehidupan, kita tidak akan terlepas terhadap hal2 baru dah masalah2 baru yang akhirnya membuat kita harus memecahkan permasalahan tersebut dengan hal baru. Tetapi perlu diingat, bahwa bagaimanapun cara kita utk memecahkan permasalahan tersebut, kita tidak boleh keluar dari syariat islam.

Semua hal baru yang keluar dari syariat islam maka akan tertolak. Seperti pada masa Rasulullah, ada seorang laki2 yang bernazar untuk terus berdiri sepanjang hari, tidak mau duduk dan tidak mau berteduh sambil berpuasa. Rasul pun langsung menyuruh orang tersebut untuk duduk dan berteduh dan tetap menyempurnakan puasanya. Bernazar dengan berdiri tanpa duduk dan berteduh bukanlah termasuk syariat sehingga Rasul pun menyuruh laki2 itu untuk berhenti melakukannya. Tetapi puasa laki2 tersebut Rasul perintahkan utk disempurnakan, karena bernazar puasa termasuk dalam syariat.

Adapun hal baru yang masih dalam syariat, maka hal itu diperbolehkan.
Seperti peristiwa pengumpulan mushaf Al Qur'an yang sebenarnya jika dikategorikan hal tersebut termasuk hal baru. Karena, di masa Rasul, Rasulullah tidak pernah memerintahkan para sahabat utk mengumpulkan mushaf Al Qur'an. Baru dimasa Abu Bakar Ash Shidiq, Mushaf Al Qur'an pertama kali dikumpulkan karena kekhawatiran Umar bin Khatab atas banyaknya para hafidz yang gugur dan menjadi syuhada' pada peperangan. Itu sebabnya,atas usul Umar bin Khatab, Al Qur'an untuk pertama kali di kumpulkan dan dijadikan arsip pada masa Abu Bakar Ash Shidiq dan disempurnakan penulisannya serta disebarluaskan keseluruh dunia beserta para imam yang mengajarkan bacaannya pada masa Usman bin Affan.

Oleh karena itulah, seluruh kaum Muslimin, dianjurkan untuk menjadikan hadits ini sebagai pegangan untuk menolak kemungkaran. Dan kita sebagai kaum Muslimin, haruslah bisa memilih dan memilah hal2 apa saja yang baiknya kita ambil dan yang tidak.

Kekurangannya mohon dimaafkan 🙏
Perangkum : Sania
Masjid Agung Ibnu Batutah

Rangkuman Hadits Arba'in ke 4 Oleh Ust.Drs.H.Sholahudin

Tidak ada komentar:
Rangkuman Ceramah Tarawih
4 Ramadan 1440 H
Oleh : Ust. Drs.H. Sholahudin

عَنْ أَبِي عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَبْدِ اللهِ بنِ مَسْعُوْدٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ
 قَالَ : حَدَّثَنَا رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم وَهُوَ الصَّادِقُ الْمَصْدُوْقُ : إِنَّ أَحَدَكُمْ يُجْمَعُ خَلْقُهُ فِي بَطْنِ أُمِّهِ أَرْبَعِيْنَ يَوْماً نُطْفَةً، ثُمَّ يَكُوْنُ عَلَقَةً مِثْلَ   ذَلِكَ، ثُمَّ يَكُوْنُ مُضْغَةً مِثْلَ ذَلِكَ، ثُمَّ يُرْسَلُ إِلَيْهِ الْمَلَكُ فَيَنْفُخُ فِيْهِ الرُّوْحَ، وَيُؤْمَرُ بِأَرْبَعِ كَلِمَاتٍ: بِكَتْبِ رِزْقِهِ وَأَجَلِهِ وَعَمَلِهِ وَشَقِيٌّ      أَوْ سَعِيْدٌ.    فَوَ اللهِ الَّذِي لاَ إِلَهَ غَيْرُهُ إِنَّ أَحَدَكُمْ لَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ الْجَنَّةِ حَتَّى مَا يَكُوْنُ بَيْنَهُ وَبَيْنَهَا إِلاَّ ذِرَاعٌ فَيَسْبِقُ عَلَيْهِ الْكِتَابُ فَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ فَيَدْخُلُهَا، وَإِنَّ أَحَدَكُمْ لَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ حَتَّى مَا يَكُوْنُ بَيْنَهُ وَبَيْنَهَا إِلاَّ ذِرَاعٌ فَيَسْبِقُ عَلَيْهِ الْكِتَابُ فَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ  الْجَنَّةِ فَيَدْخُلُهَا

“Dari Abu Abdurrahman Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu ‘Anhu beliau berkata: Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menyampaikan kepada kami dan beliau adalah orang yang jujur dan terpercaya: Sesungguhnya setiap kalian dikumpulkan penciptaannya diperut ibunya sebagai setetes mani selama empat puluh hari, kemudian berubah menjadi segumpal darah selama empat puluh hari, kemudian menjadi segumpal daging selama empat puluh hari. Kemudian diutus kepadanya seorang malaikat lalu ditiupkan padanya ruh dan dia diperintahkan untuk menetapkan empat perkara: menetapkan rizkinya, ajalnya, amalnya dan kecelakaan atau kebahagiaannya. Demi Allah yang tidak ada Ilah selain-Nya, sesungguhnya di antara kalian ada yang melakukan perbuatan ahli surga hingga jarak antara dirinya dan surga tinggal sehasta akan tetapi telah ditetapkan baginya ketentuan, dia melakukan perbuatan ahli neraka maka masuklah dia ke dalam neraka. sesungguhnya di antara kalian ada yang melakukan perbuatan ahli neraka hingga jarak antara dirinya dan neraka tinggal sehasta akan tetapi telah ditetapkan baginya ketentuan, dia melakukan perbuatan ahli surga  maka masuklah dia ke dalam surga.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Sedikit Penjabaran Tentang Hadits tersebut

1. ثُمَّ يَكُوْنُ مُضْغَةً مِثْلَ ذَلِك
kemudian menjadi segumpal daging selama empat puluh hari.
Maksudnya: disaat inilah manusia sudah bisa ditentukan siapa walinya

 2. ثُمَّ يُرْسَلُ إِلَيْهِ الْمَلَكُ فَيَنْفُخُ فِيْهِ الرُّوْحَ، وَيُؤْمَرُ بِأَرْبَعِ كَلِمَاتٍ: بِكَتْبِ رِزْقِهِ وَأَجَلِهِ وَعَمَلِهِ وَشَقِيٌّ أَوْ سَعِيْدٌ.
Kemudian diutus kepadanya seorang malaikat lalu ditiupkan padanya ruh dan dia diperintahkan untuk menetapkan empat perkara: menetapkan rizkinya, ajalnya, amalnya dan kecelakaan atau kebahagiaannya.
Maksudnya :Ini menjelaskan tentang takdir
Para Ulama membagi takdir menjadi 2. Yaitu, Takdir Mubram dan Takdir Muallaq

Takdir Mubram adalah takdir yang tidak dapat diubah.
Takdir Muallaq adalah takdir yang tergantung pada si penerima takdir tersebut.

Kematian, rezeki, kehormatan dan kehancuran. Semuanya sudah ditentukan dan tidak dapat diubah.

Allah memberikan rezeki pada semua makhluknya. Bahkan orang gila pun diberi rezeki oleh Allah dan itu adalah takdir. Hanya saja untuk memperoleh rezeki tersebut, manusia haruslah berusaha. Jika usahanya besar, maka besar pula yg didapat begitu pula sebaliknya. Firman Allah :

اِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ

“…Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri …” (QS. Ar-Ra’du:11)

Setiap makhluk pasti akan menerima ajalnya. Waktunya pun sudah ditentukan. Sebagai makhluk Allah kita hanya perlu berusaha untuk memilih kematian kita. Husnul khotimah atau su'ul khotimah.

وَإِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالْخَوَاتِيمِ

“Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada akhirnya.” (HR. Bukhari, no. 6607)

Kehormatan dan kehancuran manusia pun sudah Allah tetapkan. Tetapi sekali lagi, manusia masih memiliki takdir muallaq yang takdir itu masih bisa diubah tergantung apa yang kita lakukan. Allah menyuruh seluruh hambanya berusaha dan berdoa. Meskipun tidak dapat menghilangkan bala, tetapi Allah mendatangkan kelembutan-Nya untuk mereka yang berdoa.

3.  فَوَ اللهِ الَّذِي لاَ إِلَهَ غَيْرُهُ إِنَّ أَحَدَكُمْ لَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ الْجَنَّةِ حَتَّى مَا يَكُوْنُ بَيْنَهُ وَبَيْنَهَا إِلاَّ ذِرَاعٌ فَيَسْبِقُ عَلَيْهِ الْكِتَابُ فَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ فَيَدْخُلُهَا، وَإِنَّ أَحَدَكُمْ لَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ حَتَّى مَا يَكُوْنُ بَيْنَهُ وَبَيْنَهَا إِلاَّ ذِرَاعٌ فَيَسْبِقُ عَلَيْهِ الْكِتَابُ فَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ  الْجَنَّةِ فَيَدْخُلُهَا

Demi Allah yang tidak ada Ilah selain-Nya, sesungguhnya di antara kalian ada yang melakukan perbuatan ahli surga hingga jarak antara dirinya dan surga tinggal sehasta akan tetapi telah ditetapkan baginya ketentuan, dia melakukan perbuatan ahli neraka maka masuklah dia ke dalam neraka. sesungguhnya di antara kalian ada yang melakukan perbuatan ahli neraka hingga jarak antara dirinya dan neraka tinggal sehasta akan tetapi telah ditetapkan baginya ketentuan, dia melakukan perbuatan ahli surga  maka masuklah dia ke dalam surga.”

Maksudnya : Allah Maha Pemaaf lagi Maha Penerima Taubat. Selama ruh belum sampai tenggorokan, maka taubat hambaNya yang bertaubat dengan sungguh2 dan tidak mengulangi dosanya insyaallah akan diterima taubatnya oleh Allah. kita semua tidak ada yg tau kapan ajal kita, itu sebabnya kita harus senantiasa mempersiapkan diri kita untuk menghadapi ajal kita.
Wallahu A'lam.

Perangkum : Sania
Masjid Agung Ibnu Batutah

 
back to top